Jumat, November 30, 2007...10:45 am

Bukan Kesetiaan Semata

Lompat ke Komentar
979-461-065-8.jpg
Judul : San Pek Eng Tay : Romantika Emansipasi Seorang Perempuan
Penulis : Oey Kim Tiang (OKT)
Penerbit : Yayasan Obor Indonesia
Cetakan : VI, Maret 2004
Tebal : 302 hlm


San Pek Eng Tay sering disebut Sam (Sic) Pek Eng Tay , merupakan salah satu karya sastra Cina yang populer di tanah air kita. Ada 10 judul buku serupa yang telah diterbitkan. Kisah San Pek dan Eng tay ini pernah pula difilmkan juga dipentaskan dalam sekian banyak pertunjukan.
Kepopulerannya tidak terbatas pada mereka ; kalangan etnis Cina saja, namun juga sampai kepada kalangan peribumi. Ini dapat dilihat dari wujud kisah ini dalam bentuk ludruk , lenong, dan pagelaran drama. Salah satu versi terpopuler adalah drama yang dipentaskan oleh Teater Koma, buah karya N. Riantiarno. Tak tanggung-tanggung pertunjukan drama ini berlangsung selama 18 hari dalam bulan Agustus-September 1988 lalu.

Fiksi Cina yang diceritakan kembali oleh Oey Kim Tiang (OKT) dan diredaksi oleh Achmad Setiawan Abadi (ASA) ini tidak sekedar megisahkan tragedi percintaan anak manusia seperti Romeo dan Juliet, atau Romi dan Juli dalam cerita Indonesia, dan Layosari dan Jayaprana, namun justru lebih mengisahkan romantika emansipasi seorang perempuan yang dengan gigih memperjuangkan hak-hak dan kewajibannya.

San Pek Eng Tay adalah cerita rakyat dari Tiongkok yang mengisahkan suatu episode kehidupan gadis bernama Ciok Eng Tay dan juga pemuda yang bernama Nio San Pek. Mereka hidup di abad ke-4 Masehi.

Dalam persoalan laki-laki dan perempuan, Konfisianisme menempatkan derajat lelaki lebih tinggi dari perempuan. Bahkan di kalangan yang terpelajar-dalam hirarki struktur masyarakat Cina yang feodal, kaum terpelajar (Shih), yang meliputi kaum bangsawan dan kaum birokrat, berada pada urutan palng atas, kemudian diikuti oleh kaum tani (Nung), disusul kaum buruh (Kung) dan yang paling rendah adalah kaum saudagar (Shang). Kaum perempuan didiskriminsaikan. Bahkan konon di antara beribu ribu murid Khong Hu Cu, tak seorangpun wanita.

Atas dasar ingin memperjuangan haknya agar menjadi perempuan yang berpendidikan/berpengetahuan, maka dengan nekat Eng Tay melakukan penyamaran menjadi laki laki. Di tengah perjalanan menuju tempat sekolahnya, Bertemulah San Pek dengan Eng Tay. Ternyata mereka memiliki tujuan yang sama. Mereka memutuskan untuk tinggal se asrama.

San Pek menyayangi Eng Tay sebagai adik angkatnya, pada mulanya, dan penyamaran Eng Tay belum terendus. Eng Tay tetap dikenal sebagai laki laki oleh San Pek. Ketika mengetahui bahwa Eng Tay sebenarnya adalah seorang perempuan, San Pek lantas membalas cinta Eng Tay.

Tapi perjalanan cinta diantara keduanya tak semulus persaudaraan mereka. Eng Tay telah dijodohkan dengan Ma Bun Cay, putra seorang kaya raya. San Pek patah hati dan sakit dibuatnya, kemudian meninggal dunia. Eng Tay terpukul dengan kematian kekasihnya. Dia berkeras untuk tetap menolak perkawinan itu.

Tibalah hari yang ditentukan. Dalam perjalanan menuju rumah calon mempelai laki lakinya (Ma Bun Cay), Eng Tay menziarahi kuburan San Pek. Karena tangisannya yang yang menyiratkan kesedihan dan mendalam, juga karena kesetiaan Eng Tay, maka merekahlah tanah kubur San Pek. Dengan sigap, Eng tay melompat masuk ke dalam liang kubur menyusul kekasihnya. Indahnya…di atas kuburan mereka kerap berterbangan sepasang kupu-kupu.

Saya gak bisa bilang apa-apa, kecuali…rugi banget kalo gak baca buku ini. (Nai)

& Komentar


Tinggalkan Balasan