Senin, Desember 17, 2007...10:45 pm

Semangat Hidup Seorang Lelaki Tangguh

Lompat ke Komentar

6847-02161009122007@Ganti---Hati--Resensi

Judul: Ganti Hati
Penulis: Dahlan Iskan
Penerbit: JP Books
Cetakan: II, Nov 2007
Tebal: 328 hlm

32 tulisan berseri yang dibukukan ini sebelumnya dipublikasikan di harian Jawa Pos dan jaringan media di bawah bendera Jawa Pos News Networks (JPNN).

Buku ini mengisahkan tentang perjuangan dan semangat hidup seorang lelaki tangguh; Dahlan Iskan, dalam menghadapi rasa sakit juga penderitaannya menghadapi sirosis yang semakin mengerogoti hati.

Dahlan Iskan, dalam usianya ke-55 tahun harus menjalani berbagai operasi akibat kerusakan organ-organ di dalam tubuhnya, mulai dari menambal seluruh saluran pencernaan, memotong sepertiga limpa miliknya, sampai dengan mengganti organ terbesar yang dimiliki manusia yakni HATI.

Beliau sangat menyadari makna bertarung untuk tetap hidup dalam sakit yang terbilang tidak sederhana ini. Ajaran Sangkan Paraning Dumadi; dari mana dan akan ke mana dan semua kejadian membuat beliau yakin seyakin-yakinnya akan keberhasilan operasinya. Penyebab  lain yang membuatnya yakin akan keputusan besar untuk segera melakukan transplantasi hati ini adalah banyaknya anggota keluarganya yang mati muda. Ibu yang meninggal di usia 42 tahun, kakak yang digelari Nurcholis Madjid di Jawa Timur, Paman dan Pakde, kesemuanya meningal karena muntah darah juga dengan penyakit yang berawal dari persoalan liver.

Beliau memiliki latar belakang sejarah yang tidak gemilang. Sejak kecil beliau sudah belajar untuk tahan menghadapi penderitaan, bukan saja oleh kemiskinan namun juga oleh kerasnya sikap orang tua, terutama bapak dalam mendidiknya. Rasa sakit dan menderita yang menderanya di masa lalu membuat beliau tidak ingin merasakan sakit, penat, dan tersiksa ketika dilarang bergerak selama 24 jam pasca operasi maha besar itu.

Sudah puluhan tahun saya menderita, kata saya dalam hati. Kalau hanya akan ditambah 24 jam di dalam ICU ini, apalah beratnya.” (halaman 38)

Masa kecil yang akrab dengan kemiskinan membuat beliau tegar dan ulet, tangguh dan bersahaja meski kini hidup serba berkecukupan.

Di dalam buku setebal  328 halaman ini, beliau bercerita dengan kalimat yang sangat sederhana, memotivasi dan memberikan pelajaran berharga. Sedikit beliau menceritakan tentang suksesnya Jawa Pos seperti sekarang ini, bukan karena grand design yang dimilikinya. Dulu ia hanya ingin Jawa Pos memiliki oplah separohnya dari Surabaya Post. Keinginan itu meningkat terus secara bertahap, sehingga menjadi seperti Group Jawa Pos sekarang. Di sini beliau mengajarkan sebuah prinsip bahwa sebaiknya semuanya mengalir bak air.

Itu menangnya orang yang tidak punya cita-cita tinggi sejak awal. Hidup lebih fleksibel. Karena tidak punya cita-cita, kalau dalam perjalanan menghadapi batu besar, ia akan membelok. Tapi kalau orang berpegang teguh pada cita-cita, bertemu batupun akan ditabrak. Iya kalau batunya yang menggelundung, lha kalau kepalanya yang pecah gimana?” (hal 45)

Ganti Hati, memuat banyak pelajaran yang dapat dipetik pembaca. Bukan saja pengalaman penulisnya, namun  nilai kesederhanaan, kerja keras, keteladanan, juga pandangan hidup. Tak heran kalau buku ini laris manis bak kacang goreng. Sehingga  buku ini harus dicetak ulang dalam waktu yang relatif singkat. Semoga sehat selalu  Pak…tak habis habis kekaguman saya padamu. Saya masih menungu kisah bapak yang lain dalam bentuk otobiorafi, saya menunggunya, Pak…  (Nai)

& Komentar


Tinggalkan Balasan