
Judul : Un Homme et Une Femme
Penulis : Stanley Dirgapradja
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Desember 2007
Tebal : 304 Hal.
‘For Bayu and Lara, thanks for trusting me your stories and believing me to retell an fictionalizing it’.
Demikian tulisan yang tersemat di halaman persembahan Saya menduga cerita dalam novel ini berdasarkan kejadian nyata Bayu dan Lara yang diangkat menjadi novel ringan, namun menarik.
Latar belakang novel bersampul jingga dengan gambar siluet perempuan menatap laut senja ini sangat menggoda. Saya fikir tak ada salahnya saya mengisi akhir pekan dengan membaca buku yang sejak terpajang dalam rak genre metropop ini telah mencuri perhatian saya.
Sinopsis
Bayu dan Lara sahabat dekat. Mereka kerap jalan berdua, sekedar berbelanja, atau menikmati kopi di kafe di bilangan Gejayan. Selain itu Lara adalah kekasih Khrisna, kakak kandung Bayu. Maka tak heran bila Bayu menjadi jembatan bagi keduanya selama menyelesaikan konflik.
Awalnya hubungan cinta Khrisna-Lara baik-baik saja, sampai pada masalah yang dibuat lara yang menyulitkan diri sendiri. Krishna, cowok cuek, mahasiswa yang terbelit skripsi, anak band yang gaul yang suka ngaret,tidak terjadwal ; sangat berbeda dengan lara yang disiplin. Namun Khrisna tetap cowok yang perhatian. Masalahnya kemudian, Lara malah minta ‘time out’ tanpa alasan yang jelas dan dapat diterima. Lara ingin ”istirahat” sebentar dari Khrisna, sampai waktu yang tidak tahu akan berakhir kapan.
Bayu sendiri pernah menjalin hubungan dengan Shanice, sahabat Lara. Namun akhirnya kecewa. Kekecewaan tersebut meninggalkan trauma yang mengakibatkan Bayu menutup diri untuk cinta yang lain.
Bayu yang mulai dihinggapi kegalauan seputar orientasi seksualnya ketika dengan sengaja Lara membuatnya berkenalan dengan Rio, yang memang telah dicurigainya sejak awal menaruh hati padanya. Bayu berusaha sekuatnya meyakinkan diri akan jati dirinya. Sampai akhirnya, Bayu mendapat tawaran bekerja memotret produk-produk Rio. Bayu berusaha untuk tidak tergoda dan menjadi profesional di bidangnya. Namun, Rio gencar beraksi, berbanding terbalik dengan Bayu yang ingin menunjukkan bahwa dia staight.
Datar Tanpa Gejolak
Cerita ini sangat datar, sedikit menjemukan, dan mudah tertebak. Tidak sebanding dengan cover dan ringkasan cerita di sampul belakang yang menggoda. Ibarat makan, rasa novel ini tidak terlalu istimewa. Rasa asin yang tidak terlalu kentara, manis, dan asam yang tenggelam dalam glamournya kehidupan modern yang disajikan.
Saya tidak terlalu puas dengan penokohannya yang sering kehilanga karakter. Penulis tidak konsisten dalam menciptakan karakter tokoh Lara yang kuat dan bersikeras untuk putus, namun di halaman berikutnya, penulis menyajikan Lara yang goyah.
Berlebihan dan Tak Masuk Akal
Beberapa adegan yang terlalu berlebihan adalah, email yang dikirim Bayu dan Lara saat mereka berjauhan (Bayu di Bandung dan Lara di Jogja). Di sana dituliskan bahwa Lara meminta Bayu segera pulang. Lara butuh ’daleman’ (CD dan lingirie) “stok habis” katanya, dan Lara ingin Bayu menemani membelinya. Ahhh… saya merasa sedikit terganggu dengan email dan kalimat Lara yang ‘aleman bin manja’ masa beli daleman saja harus Bayu yang menemani? Bukannya Lara memiliki sahabat yang tergabung dalam sisterhood?
Lagi…bagaimana mungkin Lara mampu memprofokasi Bayu untuk menjadi gay walaupun Bayu berusaha meyakinkan dirinya dan Lara bahwa dia adalah lelaki normal, straight.
Adegan lain yang klise dan yang paling mencolok adalah adegan mabuknya Khrisna yang kemudian membongkar rahasia Bayu, rasanya kok basi banget ya? Seperti nonton sinetronnya Raam Punjabi saja. Sayang, cover nan indah itu, tidak mendukung dan menjadikan cerita yang disajikan tidak semenarik novelnya.(Nai)



hmmm…. begitu ya? Covernya emang bagus banget… Judulnya pun pake bhs france..
ternyata…. :))
saya juga sudah baca, karena dikasih gratisan jadi ya…tetap senang. Memang betul, isinya agak gak jelas karepe apa. salam kenal..:))