
Judul Buku : Mahasati
Penulis : Qaris Tajudin
Penerbit : AKOER
Cetakan : I, Mei 2007
Tebal : 392 hlm
Keterangan : dibeli di Gramedia Ambarukmo Plaza, 19 November 2007.
Mahasati, adalah novel perdana Qaris Tajudin. Seorang jurnalis koran dan majalah Tempo. Kali ini ia menuliskan tentang kegigihan cinta. Cinta seorang laki-laki kepada teman kecilnya ; Larasati yang lebih akrab dipanggil Sati (sebuah pemenggalan nama yang tidak biasa).
Mahasati adalah nama sebuah patung di India yang dibangun untuk mengabadikan sebuah tradisi kuno tentang istri-istri yang setia kepada sang suami, hingga pada saat suaminya meninggal dan jenazahnya dibakar untuk diperabukan mereka rela ikut mati dibakar. Dan, Larasati kemudian dipanggil dengan Mahasati oleh Andi…seorang yang teramat menyintainya.
Andi dan Sati telah berteman sejak kecil. Ketika remaja mereka kemudian menjadi sepasang kekasih, saling menyayangi, meskipun kemudian takdir mengharuskan mereka terpisah.
Selama sepuluh tahun mereka terpisah. Namun di pemakanam sahabatnya ; Yoyok , mereka kembali bertemu. Bibit-bibit cinta yang dulu tumbuh kini bersemi kembali. Andi yang telah menjadi seorang wartawan, dan Sati seorang perancang mode kenamaan, dan ia telah memiliki seorang anak perempuan berusia 8 tahun, bernama Rania, buah hubungannya dengan lelaki beristri.
Kekuatan cinta Andi membuatnya tidak memerdulikan keadaan Sati, tidak juga mengurangi kadar cinta Andi kepadanya. Ia menerima segala kekurangan Sati. Sampai pada saat, dimana Sati harus merelakan Rania diambil ayah kandungnya. Sati terpukul, lalu menenggak Valium yang menyebabkan kematiannya.
Andi tak kalah terpukul. Ia menyesal, karena tak dapat membantu Sati memperjuangkan haknya mempertahankan Rania. Jiwanya ikut mati bersama Sati. Ia lalu memutuskan untuk melakukan pengembaraan.
Lalu Andi pergi ke Tunisia, dengan tujuan mempelajari agama agar ia bisa kembali dekat kepada Tuhan. Disana ia berkenalan dengan Ahmed, anak induk semangnya. Karena ajakan Ahmed, Andi pun terseret dalam pergerakan para mahasiswa yang memperjuangkan kebebasan melawan pemerintah. Hingga satu saat Andi pun tercantum dalam daftar hitam sebagai orang yang dicari setelah suatu peristiwa peledakan bom. Andi dan Ahmed atas bantuan seorang teman berhasil lari ke Sisilia.
Miriam menolong mereka menggunakan jalur mafia Italia. Mereka dipertemukan dengan sosok mafia yang tiba-tiba bermaksud menjadikan mereka sandera gara-gara transaksi yang terhambat dengan Hadar Ezra, ayah Miriam. Atas bantuan Tumino, yang menganggap dirinya sebagai Obi Wan-Kenobi dan Andi sebagai Anakin Skywalker, Andi dan Ahmed meninggalkan Italia. Mereka memutuskan menuju Afghanistan, merintis perjalanan laksana Che Guevara, dan terdampar di sebuah rumah sakit di Jalalabad pada saat Afghanistan berada di bawah pemerintahan Taliban.
Pertemuan dengan Fairuz membuat Andi memutuskan untuk menjadi anggota pengawal bersenjata yang melindungi keluarga suku nomaden Afghanistan dari serangan begal. Dalam perjalanan menyusuri persilihan musim di pegunungan Hindu Kush, Andi terjerat pesona kecantikan perempuan Hindu Kush bernama Nafas.
Dari Afghanistan, ia terjaring tentara Amerika dan mengempaskannya ke penjara di Guantanamo bersama ratusan tawanan perang lain. Setelah interogasi 2 bulan yang gagal, akhirnya penanganan Andi diserahkan pada perempuan perwira Amerika berdarah Asia, bernama Lucia Wong.
Lucia berhasil. Kepada Lucia, Andi mengisahkan perjalanan hidupnya secara langsung juga melalui tulisannya di sebuah buku.
Novel ini sangat menarik, dengan penyajiannya yang unik. Ada dua plot yang saling isi, namun tidak tumpang tindih, apalagi membingungkan. Plot pertama dengan Lucia Wong sebagai narator yang bercerita tentang prosesnya menginterogasi Andi Jatmika di penjara Guantanamo. Plot kedua berasal dari buku yang ditulis Andi selama di sel tahanan untuk dibaca oleh Lucia, berkisah tentang perjalanan hidup Andi hingga ia tertangkap di Afghanistan.
Qaris menghadirkan tokoh-tokoh yang berkarakter kuat. Andi, sang avonturir sejati, Sati yang mandiri, Lucia Wong yang kaku, juga Ahmed dan Fairuz yang keras dan tegas.
Novel ini bertaburan puisi, menunjukkan bahwa penulisnya penggila puisi akut. Membuat kekaguman saya semakin menjadi kepada Qaris. Namun, bila saja Qaris dalam menciptakan tokoh Andi menghadirkan tokoh Andi yang sebenar ; mampu melahirkan puisi sebagai anak nuraninya, bukan kutipan dari penulis kenamaan, tentu akan sangat menarik.
Satu puisi yang paling saya sukai ;
”Aku tak mementingkan keabadian
Aku November….bulan badai
Dan hujan…dan dingin
Aku November…maka berkelebatlah
Seperti petir di jasadku
Cintai aku meski hanya
Berpekan-pekan…berhari-hari, berjam-jam”(hal 227).
sebuah puisi karya Nizar Qabani yang diterjemahkan oleh Qaris sendiri. (Nai)



good review….!
menjadi buku ini semakin kuat dan menarik utk dibaca
aku baru sempat pegang aja di gramed blok m. baca keterangan di sampul belakangnya aja. kok blum minat bacanya ya hihi..
unai mau di review? boleh aja.. semua blogger nanti kebagian hi hih i
kapan aja bisa. karena aku tak tahu kamu punya ym jadi bush aja kalau mau ngobrol. ok