Sabtu, Mei 10, 2008...10:45 am

Sebuah Novel Anti Kemapanan

Lompat ke Komentar

Nugi

Judul Buku : So real / surreal

Penulis      : Nugroho Nurarifin

Penerbit    : Gramedia Pustaka Utama

Cetakan    : I, Maret 2008

Tebal        : 176 hlm

Ket           : dibeli di MP Book Point Jakal Yogyakarta, 5 Mei 2008

So Real / Surreal, adalah novel kedua Nugroho Nurarifin  setelah sebelumnya sukses dengan “Bidik”. Di dalam novelnya ini, Nugroho Nurarifin menulis buku dengan latar kehidupan sehari-hari di Pantarei Communications.

Nugi, nama beken dari Nugroho Nurarifin, mencoba  menceritakan seorang laki-laki muda  yang berkomitmen menjalani kehidupan sekali pakai.

Laki-laki muda menganggap bahwa  setiap hal yang bersifat jangka panjang berpotensi memberi kenyamanan, dan kenyamanan itu mendatangkan sakit hati.

”Aku makan dengan piring-piring styrofoam, minum dengan gelas-gelas plastik, susuku tersedia dalam karton-karton mungil sekali minum…Celana dalamku kertas, aku tidur di dalam sleeping bag yang kuganti setiap bulan…Hdup sekali pakai. Itulah yang kumiliki…Semua yang sifatnya jangka panjang hanya akan melukai…”

Demikian pembukaan novel yang membuat saya terpancing untuk mengetahui isinya lebih dalam. Ada empat karakter yang  berbeda di dalam novel ini. Empat karakter ini, terdiri dari dua tokoh nyata yaitu Nugroho Nurarifin (Nugi sendiri) dan Anisa (Istri Nugi), dan dua tokoh fiksi yaitu lelaki muda dan Raymond.

Lewat internet, laki-laki muda ( yang berkomitmen akan kehidupan sekali pakai itu) mengetahui Nugroho Nurarifin, seorang coppywriter pada agen periklanan Pantaeri . Pada waktu yang sama, Anisa pasangan Nugroho tanpa disadari masuk ke kehidupan pengusaha media terkemuka dan terjebak dalam affair singkat dengan Raymond.

Dan seterusnya dan seterusnya….

Novel yang  mengangkat ranah posmodernisme kaum urban Jakarta ini, meskipun alur nya ringan dan mudah dipahami, namun ukuran font yang berbeda, bergantian selang-seling yang dimaksudkan penulis untuk membedakan pemikiran satu tokoh dengan tokoh yang lain membuat pembaca (terutama saya) merasa terganggu. Meskipun cara penulisan seperti ini sah-sah saja, tapi akan lebih baik bila pembedaan pemkiran tersebut ditegaskan dalam penokohan yang kuat. Sehingga  tanpa pembedaan font, pembaca paham; siapa yang berpendapat, dan siapa yang sedang berbicara. (Nai)

7 Komentar


Tinggalkan Balasan