
Judul Buku : So real / surreal
Penulis : Nugroho Nurarifin
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : I, Maret 2008
Tebal : 176 hlm
Ket : dibeli di MP Book Point Jakal Yogyakarta, 5 MEi 2008
So Real / Surreal, adalah novel kedua Nugroho Nurarifin setelah sebelumnya sukses dengan “Bidik”. Di dalam novelnya ini, Nugroho Nurarifin menulis buku dengan latar kehidupan sehari-hari di Pantarei Communications.
Nugi, nama beken dari Nugroho Nurarifin, mencoba menceritakan seorang laki-laki muda yang berkomitmen menjalani kehidupan sekali pakai.
Laki-laki muda menganggap bahwa setiap hal yang bersifat jangka panjang berpotensi memberi kenyamanan, dan kenyamanan itu mendatangkan sakit hati.
”Aku makan dengan piring-piring styrofoam, minum dengan gelas-gelas plastik, susuku tersedia dalam karton-karton mungil sekali minum…Celana dalamku kertas, aku tidur di dalam sleeping bag yang kuganti setiap bulan…Hdup sekali pakai. Itulah yang kumiliki…Semua yang sifatnya jangka panjang hanya akan melukai…”
Demikian pembukaan novel yang membuat saya terpancing untuk mengetahui isinya lebih dalam. Ada empat karakter yang berbeda di dalam novel ini. Empat karakter ini, terdiri dari dua tokoh nyata yaitu Nugroho Nurarifin (Nugi sendiri) dan Anisa (Istri Nugi), dan dua tokoh fiksi yaitu lelaki muda dan Raymond.
Lewat internet, laki-laki muda ( yang berkomitmen akan kehidupan sekali pakai itu) mengetahui Nugroho Nurarifin, seorang coppywriter pada agen periklanan Pantaeri . Pada waktu yang sama, Anisa pasangan Nugroho tanpa disadari masuk ke kehidupan pengusaha media terkemuka dan terjebak dalam affair singkat dengan Raymond.
Dan seterusnya dan seterusnya….
Novel yang mengangkat ranah posmodernisme kaum urban Jakarta ini, meskipun alur nya ringan dan mudah dipahami, namun ukuran font yang berbeda, bergantian selang-seling yang dimaksudkan penulis untuk membedakan pemikiran satu tokoh dengan tokoh yang lain membuat pembaca (terutama saya) merasa terganggu. Meskipun cara penulisan seperti ini sah-sah saja, tapi akan lebih baik bila pembedaan pemkiran tersebut ditegaskan dalam penokohan yang kuat. Sehingga tanpa pembedaan font, pembaca paham; siapa yang berpendapat, dan siapa yang sedang berbicara.



Berapa harga novelnya?
istri juga sekali pakai yo mas?
Resensi buku yang tajam. Di tunggu terus karya-karya resensinya Mbak. Salam kenal.
@Edy: berapa ya? karena setiap habis membeli, saya ndak pernah menyimpan struk pembeliannya, mungkin 36 ribu deh
@Ndoro Saten: mungkin :), tapi saya mbak loh bukan mas
@Rafki: salam kenal kembali
wah saya belum sempat membacanya… paragraf pembukaanya keren banget…
pernah jg sih parkir di pemikiran seperti ini. “reguklah hari ini”. tp pada saat lain, hanya mimpi tentang besoklah yg mencegah kita dari bunuh diri hari ini.
tp ya, kutipan opening-nya itu menggoda, banget!
wahhh…. pasti bagus buku ini. Tapi sayangnya tumpukan buku sdg byk, jd stop dulu beli buku