10
Mei
08

Sebuah Novel Anti Kemapanan

Nugi

 

Judul Buku : So real / surreal

Penulis : Nugroho Nurarifin

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Cetakan : I, Maret 2008

Tebal : 176 hlm

Ket : dibeli di MP Book Point Jakal Yogyakarta, 5 MEi 2008

 

So Real / Surreal, adalah novel kedua Nugroho Nurarifin  setelah sebelumnya sukses dengan “Bidik”. Di dalam novelnya ini, Nugroho Nurarifin menulis buku dengan latar kehidupan sehari-hari di Pantarei Communications. 

 

Nugi, nama beken dari Nugroho Nurarifin, mencoba  menceritakan seorang laki-laki muda  yang berkomitmen menjalani kehidupan sekali pakai.


 

Laki-laki muda menganggap bahwa  setiap hal yang bersifat jangka panjang berpotensi memberi kenyamanan, dan kenyamanan itu mendatangkan sakit hati.

Aku makan dengan piring-piring styrofoam, minum dengan gelas-gelas plastik, susuku tersedia dalam karton-karton mungil sekali minum…Celana dalamku kertas, aku tidur di dalam sleeping bag yang kuganti setiap bulan…Hdup sekali pakai. Itulah yang kumiliki…Semua yang sifatnya jangka panjang hanya akan melukai…”

 

Demikian pembukaan novel yang membuat saya terpancing untuk mengetahui isinya lebih dalam. Ada empat karakter yang  berbeda di dalam novel ini. Empat karakter ini, terdiri dari dua tokoh nyata yaitu Nugroho Nurarifin (Nugi sendiri) dan Anisa (Istri Nugi), dan dua tokoh fiksi yaitu lelaki muda dan Raymond.

 

Lewat internet, laki-laki muda ( yang berkomitmen akan kehidupan sekali pakai itu) mengetahui Nugroho Nurarifin, seorang coppywriter pada agen periklanan Pantaeri . Pada waktu yang sama, Anisa pasangan Nugroho tanpa disadari masuk ke kehidupan pengusaha media terkemuka dan terjebak dalam affair singkat dengan Raymond.

 

Dan seterusnya dan seterusnya….

 

Novel yang  mengangkat ranah posmodernisme kaum urban Jakarta ini, meskipun alur nya ringan dan mudah dipahami, namun ukuran font yang berbeda, bergantian selang-seling yang dimaksudkan penulis untuk membedakan pemikiran satu tokoh dengan tokoh yang lain membuat pembaca (terutama saya) merasa terganggu. Meskipun cara penulisan seperti ini sah-sah saja, tapi akan lebih baik bila pembedaan pemkiran tersebut ditegaskan dalam penokohan yang kuat. Sehingga  tanpa pembedaan font, pembaca paham; siapa yang berpendapat, dan siapa yang sedang berbicara.


7 Tanggapan ke “Sebuah Novel Anti Kemapanan”


  1. 1 Edi Psw pukul 10:45 am

    Berapa harga novelnya?

  2. 2 Ndoro Seten pukul 10:45 am

    istri juga sekali pakai yo mas?

  3. 3 Rafki RS pukul 10:45 am

    Resensi buku yang tajam. Di tunggu terus karya-karya resensinya Mbak. Salam kenal.

  4. 4 unai pukul 10:45 am

    @Edy: berapa ya? karena setiap habis membeli, saya ndak pernah menyimpan struk pembeliannya, mungkin 36 ribu deh

    @Ndoro Saten: mungkin :), tapi saya mbak loh bukan mas

    @Rafki: salam kenal kembali :)

  5. 5 kw pukul 10:45 am

    wah saya belum sempat membacanya… paragraf pembukaanya keren banget…

  6. 6 Toga pukul 10:45 am

    pernah jg sih parkir di pemikiran seperti ini. “reguklah hari ini”. tp pada saat lain, hanya mimpi tentang besoklah yg mencegah kita dari bunuh diri hari ini.

    tp ya, kutipan opening-nya itu menggoda, banget!

  7. 7 max pukul 10:45 pm

    wahhh…. pasti bagus buku ini. Tapi sayangnya tumpukan buku sdg byk, jd stop dulu beli buku :)

Tinggalkan Balasan