
Judul Buku : Mata yang Sama
Penulis : Oktavia Budiarti
Penerbit : Juxtapose, Yogyakarta
Cetakan :I, April 2008
Tebal : 164 hlm
Keterangan : dibeli di TB Togamas Yogyakarta, 19 Mei 2008
Sekilas membaca judul Novel ini, terbetik rasa ingin tahu lebih jauh tentang siapa pemilik mata yang begitu memikat ini. Mata yang diangkat menjadi judul sebuah novel, seolah berbicara banyak hal, seakan mengandung jutaan kenangan, dan berton-ton kesedihan . Karena mata seumpama telaga, ia acap memantulkan apa yang ada di permukaannya.
Nala Virginia, adalah tokoh sentral dalam novel ini. Berusia dua puluh lima tahun , dan bekerja sebagai akunting pada perusahaan swasta. Kekasihnya Yuristiawan, yang akrab disapa Yuris, telah lima tahun menjalin hubungan dengannya. Yuris adalah teman semasa kuliahnya dulu. Mereka hendak menikah, meskipun Ibu Yuris tidak menyetujui, Nala menjadi kekasihnya. Yuris sangat mencintai Nala, begitupun sebaliknya. Sampai pada suatu ketika, Nala bertemu dengan seseorang yang memiliki mata yang dikenalnya entah kapan dan dimana. Mata yang misterius ;
“Mata yang sama, mata yang mengandung sayat petir, membuat tulang belulangku berderik beberapa bulan lalu. Mata sedalam air; mengalir lubang rahasia di hatiku. Seperti mengingat sesuatu, dulu, dulu sekali aku pernah melihatnya, aku pernah menatap punggung yang sama, punggung yang menjauh, semakin menjauh….(hlm 19).
Beberapa kali Nala bertemu dengan pemuda itu, pemuda pemilik mata yang Nala kenal sebelumnya. Ada sesuatu yang aneh yang mengusik rasa ingin tahu Nala. Ia seperti terlempar pada masa lalu, kenangan yang timbul tenggelam. Serupa kepingan puzzle rahasia yang ingin diungkapnya, segera.
Nala merasa perlu menenangkan pikiran. Ia memutuskan untuk cuti dan pulang ke desa, dan berharap menemukan tanya-tanya yang belakangan kerap mengganggunya. Siapakah Paris, seseorang yang dirasa sangat dekat dengannya? Seseorang yang ia kenal baik namun tak dapat diingatnya dengan sempurna. Paris, yang kerap dipanggil dan hadir dalam mimpi.
Setibanya di desa, Nala langsung menuju sekolahnya dulu. Nala berlari kecil menuju gerbang. Di saat yang sama, ia juga mendapatkan bayangan itu lagi.
“Aku berlari, jalanan di depanku berubah, alih-alih aspal semua menjadi jalanan penuh kerikil. Aku terus berlari kecil, aku ingin berhenti namun sepertinya sesuati menyuruhku untuk terus berlari”
“Tempat ini sungguh penuh kenangan bersamanya, aroma yang sama dengan saat itu, udara yang sama dengan waktu itu, jalan yang sama. Tapi siapa Paris? Aku sungguh tak ingat !” (hal 60)
Kenangan demi kenangan berkelebat, tidak utuh namun kerap. Seolah nyata namun hilang tiba-tiba. Banyak yang berubah di sekolahnya. Termasuk bangku kenangan yang ada di dekat lapangan basket, tempat ia dulu sering melepas lelah selepas berolah raga.
Di sela ingatan yang berkejar-kejaran itu, Nala dikejutkan oleh dentang lonceng sekolah. Nala mencari sumber suara, da ia menemukan sosok yang rasanya ia kenal yang berdir di depan lonceng. Nala tergagap, menyebut nama Paris, lagi-lagi Paris. Pemuda itu adalah Aravis, saudara kembar Paris. Paris yang dirasa dekat, lekat, dan ada..namun Ia tak mampu merangkum kenangan tentangnya secara utuh.
“Kamu terus memanggilku Paris, namaku Aravis. Paris sudah meninggal! Apa kamu tidak ingat?!” (hal 65).
Lewat Aravis, Nala diantar pada masa lalu yang pernah dilewati bersama Paris. Kecelakaan sepuluh tahun lalu merenggut nyawa Paris, dan mengakibatkan Nala lupa ingatan. Aravis mengurai kekusutan ingatan Nala. Perlahan Nala menemukan semua jawaban dari semua pertanyaannya selama ini.
Novel setebal 164 halaman ini merupakan novel melankolik tanpa harus megumbar kalimat puitis, novel yang romantis sekaligus tragis. Membuat pembaca ingin segera menuntaskannya. Kalimat-kalimat sederhana, mengalir, dilengkapi dengan alur yang “enak” dan ending yang tak tertebak membuat nama Oktavia Budiarti, seseorang belum banyak dikenal dalam dunia perbukuan. Kini namanya layak diperhitungkan untuk bersaing dengan penulis-penulis hebat lainnya. (Nai)
& Komentar
Senin, Juni 2, 2008 pukul 10:45 am
Novel baru ya? Tapi mau kasih tau aja, kalo dari ms word copy dulu ke notepad copy lagi dan paste di wordpress. Biar apa? Biar formatnya gak berantakan
Jumat, Juni 6, 2008 pukul 10:45 am
[...] besar buku yang di-review di evolia.wordpress.com adalah novel, salah satunya yang terbaru novel Mata yang Sama. Selebihnya ada biografi, esai, religi, puisi, sosial politik dan lain-lain. Unai juga memajang [...]
Jumat, Juni 13, 2008 pukul 10:45 am
Baca Nai Reviews sebelum membaca buku … siip
Jumat, Juni 20, 2008 pukul 10:45 pm
Sepertinya layak dibaca nih.
Jumat, Juni 27, 2008 pukul 10:45 am
jika benar seperti review ini, emang boleh juga dibaca…
Selasa, Juli 1, 2008 pukul 10:45 am
makasih ya reviewnya.. bakal sering2 mampir kesini nih sebelom beli buku
Minggu, Juli 20, 2008 pukul 10:45 am
jd pengen baca juga, sayangnya tumpukan buku lama masih banyak…
Selasa, Juli 22, 2008 pukul 10:45 pm
waw. bolehkah saya diajari review books….. kalau iya, alangkah senangnya hati saya…
Sabtu, Agustus 2, 2008 pukul 10:45 am
seperti membaca seluruh novelnya, padahal cuma reviewnya aja,,mbak sangat menghayati novelnya ya…? yapp tak pernah ada waktu yang tak terlewati kecuali kita tak pernah mengharap hari, hari ini waktu yang dijalani, esok atau lusa ingatan membawanya kembali…hee salam kenal
Senin, Agustus 4, 2008 pukul 10:45 am
Mana yang baru Nai?
Rabu, Mei 6, 2009 pukul 10:45 pm
ulasan yang menarik..
asik berkunjung ke blog ini
salam hangat