SINTREN

Sintren

Judul buku : SINTREN
Pengarang : Dianing Widya Yudhistira
Penerbit     : Grasindo
Cetakan     : I – 2007
Tebal          : 295 hlm
 
Saya langsung tertarik ketika menemukan buku ini di tumpukan buku sastra di sebuah toko buku di kota saya. Setting novel ini adalah desa Batang–Jawa Tengah. SINTREN ; adalah pertunjukan tari yang penarinya adalah seorang wanita yang cantik.
 
Pertunjukan tari ini biasanya ramai dikunjungi masyarakat, kebanyakan kaum lelaki Tokoh utama novel ini adalah SARASWATI, seorang gadis usia belasan yang baru duduk di bangku kelas 6 SD. Dia adalah murid yang cukup cerdas di sekolahnya. Sayangnya keluarganya miskin. Ayahnya hanya seorang buruh tani dan Kemarau panjang membuat Marto (ayah Saraswati) menganggur karena sawah tidak dapat ditanami padi, maka Marto beralih profesi menjadi seorang tukang becak. Ibu Saraswati (Surti) adalah seorang yang galak dan sering memaksakan kehendak kepada Saraswati, yang bekerja menjemur ikan di Klidang. Mak Saraswati tidak setuju Saraswati sekolah, Ia ingin Saraswati membantunya bekerja menjemur ikan dan kemudian segera menikah.

 
Di dalam novel ini, selain ada keluarga Saraswati sendiri, terdapat pula Kartika ; ibu guru yang baik hati dan menyayangi Saraswati. Kartika menawarkan diri untuk melunasi tunggakan uang sekolah Saraswati. Ada pula keluarga  Juragan Wargo beserta istri (Menur), dan putranya Kirman yang sudah berusia 30 tahun lebih namun masih melajang. Juragan Wargo ingin segera menikahkan Kirman dengan Saraswati. Surti menyambut baik tawaran itu, tanpa terlebih dulu mengajak Saraswati berbicara. Surti yang masih ingin sekolah merasa keberatan. Namun akhirnya pertunangan Kirman-Saraswati gagal karena Wastini (ibu Wati, teman sekelas Saraswati) mengancam akan membuat juragan Wargo bangkrut apabila Kiraman tetap dikawinkan dengan Saraswati. Wastini adalah anak dari Nek Ijah yang meninggal dunia akibat ditabrak mobil yang dikendarai Kirman. Wastini menginginkan Kirman menikahi Wati bukan Saraswati.
 
Saraswati lega karena juragan Wargo membatalkan pertunangannya dengan Kirman. Ini berarti masih ada harapan baginya untuk melanjutkan sekolah. Namun apa daya, Mak Saraswati setuju ketika Larasati datang dan meminta Saraswati menjadi Sintren untuk pertunjukan tujuhbelasan. Tak ada pilihan lain bagi Saraswati selain menyetujuinya. Dari Larasati, Saraswati mendapatkan uang  yang kemudian disimpannya untuk keperluan sekolah.
 
Menjadi Sintren membuat Saraswati yang sudah memiliki basic wajah yang menawan membuatnya semakin matang. Mulanya Saraswati adalah gadis yang kurang percaya diri. Saraswati sering menjadi bahan olok-olok Wati namun dengan bantuan kekuatan gaib yang menguasai diri Saraswati, pelan-pelan Saraswati menjadi lebih berani dan tumbuh rasa percaya dirinya hingga berani melawan bahkan mengalahkan Wati.
 
Namun hal yang membuat saya agak jengah adalah ketika keculasan Wati dan ibunya (Wastini) terlalu didramatisir dan terlalu berlebihan sementara lawannya terlalu lemah dan tak bisa melawan. Sosok sintren menjadi sangat istimewa, digdaya, dan mampu mengalahkan kekuatan dukun manapun. Banyak kkorban berjatuhan, baik hanya sekedar menyimpan perasaan suka maupun yang menikahi Saraswati pasti  akan celaka. Satu lagi…saya mengikuki alur cerita ini dengan sangat nikmat pada awalnya. Namun pada pertengahan, saya menangkap penulis terkesan terburu-buru menyelesaikan ceritanya. Cerita melompat lompat dan tidak runtut. Namun begitu Novel Sintren ini layak dibaca karena mengangkat berhasil menggambarkan kehidupan sintren dan tradisi jawa. (Nai)
 
Iklan

1 Komentar

Filed under Novel

One response to “SINTREN

  1. dianing

    Terima kasih telah mengapresiasi novel saya. Jangan lupa baca novel terbaru saya, “Perempuan Mencari Tuhan”, yang tak lama lagi juga akan terbit sebagai buku. Novel itu juga pernah dimuat secara bersambung di Republika.

    Salam,

    Dianing Widya Yudhistira
    dianingwidya@yahoo.com

    http://dianing.wordpress.com
    http://penarisintren.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s