Memahami Pergeseran Peradaban dalam Dunia yang Berubah

Judul      : Benturan Antar Peradaban
Asli         : The Clash of Civilizations and The Remarking of World Order
Author          : Samuel P. Huntington
Penerjemah : M. Sadat Ismail
Penerbit       : Qalam
Tebal            : 639
Cetakan      : V, September 2002
 
Samuel P. Huntington adalah Guru Besar sekaligus Ketua Jurusan Ilmu Politik di Universitas Harvard dan Ketua Harvard Academy untuk Kajian Internasional dan Regional di Weather head Center for International Affairs. Beliau meneliti pelbagai perubahan yang menonjol menyangkut persoalan identitas nasional Amerika dan implikasi-implikasi terhadap peran Amerika di dunia internasional.
 
Buku berjudul Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia ini merupakan karya monumentalnya yang telah dialihbahasakan ke dalam puluhan bahasa. Sebuah Tesis benturan antar peradaban ala Huntington ini  banyak mengundang kontroversi dari dunia internasional. Mengapa kontroversial ? Salah satu Pendasaran jawaban atas pertanyaan tersebut bisa ditemukan dalam buku ini ; yakni “ bahwa masa depan politik dunia di masa datang tidak lagi berupa ideologi atau ekonomi, melainkan budaya”.

Sejak adanya kontroversi itulah Huntington masuk dalam daftar intelektual dunia paling berpengaruh yang menentang arus common sense. Tulisan Huntington ini adalah tulisan yang berkarakter provokatif, tendensius, dan spekulatif yang dibungkus dalam gaya penulisan ilmiah. Sangat menarik…

Lebih luas, Huntington mendasarkan pemikirannya pada enam alasan mengapa politik dunia ke depan akan sangat dipengaruhi oleh benturan antar peradaban yakni :
Pertama, perbedaan di antara peradaban, selain nyata juga sangat mendasar. Masyarakat dengan pandangan hidup yang berbeda dipastikan memiliki perbedaan pandangan tentang relasi baik antara Tuhan dan manusia, individu dan kelompok, kota dan bangsa, individu dan kelompok, orang tua dan anak, maupu suami dan isteri. Hal ini terjadi karena perbedaan pandangan mengenai pentingnya kerabat dalam hal hak dan kewajiban, kebebasan dan otoritas, persamaan dan heirarki.
Kedua, dunia semakin mengecil, dan interaksi di antara masyarakat dan peradaban yang berbeda terus meningkat.
Ketiga, proses modernisasi ekonomi dan perubahan sosial di seluruh dunia telah mengakibatkan tercerabutnya masyarakat dari akar-akar identitas lokal.
Semakin berkembangnya kesadaran peradaban (civilization consciousness) akibat peran ganda dunia barat. Keempat, karakteristik dan perbedaan kultural yang terjadi diantara peradaban Barat dan non-Barat semakin mengeras. Hal ini yang menyebabkan semakin sulitnya kompromi dan upaya-upaya perbaikan hubungan di antara peradaban dalam kerangka kultural. Keenam, regionalisme ekonomi yang semakin meningkat.

Ada peradaban besar yang dituliskan Huntington dalam buku ini yang akan berimplikasi pada semakin mnganganya “garis cacat” perbedaan antar peradaban dan akan semakin menyulitkan kompromi antar peradaban, yakni : barat, Konfosius, jepang, Islam Hindu, Slavik, Ortodoks, Amerika Latin, dan Afrika. Huntington meramalkan bahwa potensi konflik yang paling besar akan terjadi  antara Barat dan koalisi Islam-Konfusius. Dia juga meyakini bahwa benturan antar peradaban masa depan akan terjadi karena tiga hal pokok : hegemoni-arogansi barat, intoleransi Islam, dan fanatisme konfusionis.

Tema setra buku ini berkaitan dengan identitas-identitas budaya dan kebudayaan, atau pada skala yang paling luas, identitas peradaban yang mempu membentuk pola kohesi, sekaligus disintegrasi dan konflik pasca Perang Dingin. Lima bagian dari buku ini mengolaborasikan berbagai kesimpulan berkaitan dengan persoalan penting yaitu,  Bagian  I : Pasca Perang Dingin, dari waktu ke waktu, politik global semakin bersifat multipolar dan multifungsional : modernisasi dibedakan dari westernisasi dan lahirlah sebuah peradaban universal. Sepanjang sejarah umat manusia, hubungan antar peradaban tidak tampak dengan jelas. Bagian II :Pergeseran kekuatan di antar berbagai peradaban ; menurunnya pengaruh Barat. Peradaban Asia memperluas kekuatan ekonomi, militer dan politik mereka ; dan peradaban non-Barat, secara umum menegaskan kembali nilai-nilai budaya mereka sendiri. Bagian III : Lahirnya sebuah dunia yang didasarkan pada tatanan yang berlandaskan peradaban ; masyarakat-masyarakat yang memiliki afinitas-afinitas kultural saling bekerja sama satu dengan lainnya. Namun tidak berhasil, karena mereka sling bertumpu pada peradaban mereka sendiri-sendiri. Bagian IV :  Pretensi-pretensi universalis Barat semakin emngantarkan pada konflik dengan peradaban-peradaban lain, dan yang paling serius dengan Islam dan Cina; pada tingkat lokal, erjadi konflik antar kaum muslim dengan non muslim yang menggerakkan negara2 serumpun  ke arah pertikaian yang semakin meluas. Bagian V : Kelangsungan hidup (Peradaban) Barat tergantung pada penegasan kembali Amerika atas identitas ke-Barat-an mereka. Peradaban mereka bukan peradaban universal  dan persatuan mereka dihadapkan pada tantangan yang datang dari masyarakat non Barat. Terhindarnya perang global anar peradaban tergantung pada kebijakan dan kerjasama para pemimpin dunia dalam mempertahankan karakter multivisasional dari politik global.

Selama masa Perang Dingin politik global bersifat bipolar dan dunia terbagi ke dalam tiga bagian. Kelompok pertama merupakan negara-negara yang paling makmur dan demokratis yang dipelopori oleh Amerika Serikat, menyatakan perang baik secara ideologis, politis, ekonomi, maupun militer terhadap negara-negara komunis yang miskin di bawah “komando” Unisoviet. Sebagian besar konflik yang terjadi di Dunia Ketiga, diluar wilayah ini, terjadi diantara negara-negara yang umumnya miskin, kurang memiliki stabilitas politik, dan belum lama mengenyam kemerdekaan, serta menyatakan diri sebagai negara-negara nonblok.

Pada akhir 1980-an, dunia komunis berada di ambang kehancuran, dan perang dingin menjadi catatan sejarah. Setelah berakhirnya Perang Dingin, yang menjadi persoalan terpenting bukanlah persoalan-persoalan ideologis, politis ataupun ekonomi, tetapi persoalan budaya. Masyarakat dan negara berusaha menemukan jawaban atas persoalan manusia yang paling mendasar: Siapakah kita? Mereka menemukan jawaban dari pertanyaan tersebut melalui cara-cara tradisional, sebagaimana dilakukan oleh umat manusia pada umumnya, dengan mengacu pada sesuatu yang dipandang paling bermakna bagi mereka.
Orang-orang saling mengidentikkan diri melalui asal-usul (keturunan), agama, bahasa, sejarah, nilai-nilai, adat kebiasaan, dan institusi-institusi. Mereka mengidentifikasikandiri dengan berbagai kelompok budaya: suku-suku bangsa, kelompok-kelompok etnis, komunitas-komunitas keagamaan, kebangsaan dan pada wilayah yang paling luas, peradaban-peradaban. Orang-orang menggunakan politik tidak hanya demi kepentingan mereka semata, tetapi juga untuk menyatakan identitas mereka. Kita hanya akan tahu siapa kita ketika kita mengetahui siapa “yang bukan kita” dan itu hanya dapat diketahui melalui “dengan siapa kita sedang berhadapan.”

Selama beberapa tahun yang akan datang, Barat akan tetap sebagai peradaban yang paling berpengaruh. Namun, manakala dihadapkan pada eksistensi peradaban-peradaban lain, maka ia dapat saja mengalami kemunduran. Karena ketika Barat berusaha mempertahankan nilai-nilai dan berupaya melindungi kepentingan-kepentingannya, masyarakat non-Barat telah mempunyai pilihannya sendiri. Sebagian masyarakat non-Barat berusaha menandingi Barat dan berjuang mengejar ketertinggalan mereka dari Barat. Masyarakat konfusian dan Islam berusaha meningkatkan kekuatan ekonomi dan militer mereka untuk mempertahankan diri dan “mengimbangi” (kekuatan) Barat. Poros utama dunia politik pasca Perang Dingin adalah hubungan antara kekuatan dan kebudayaan Barat dengan kekuatan dan kebudayaan peradaban-peradaban non-Barat

Dengan demikian dunia pasca Perang Dingin dengan tujuh atau delapan peradaban besar. Persamaan atau perbedaan kultural membentuk berbagai kepentingan, antagonisme serta asosiasi antar negara. Negara-negara besar terdiri dari berbagai negara dengan peradaban mereka masing-masing. Konflik-konflik lokal rupa-rupanya menjadi sebab timbulnya pertikaian dalam skala yang lebih luas antara berbagai kelompok dan negara yang memiliki peradaban yang berbeda-beda. Pola-pola perkembangan politik dan ekonomi saling berbeda antara satu eradaban dengan peradaban lainnya. Salah satu persoalan utama yang masuk dalam agenda internasional adalah adanya perbedaan antar-peradaban. Kekuatan peradaban tampaknya mengalami pergeseran dari Barat menuju peradaban-peradaban non-Barat. Politik global pun menjadi bersifat multipolar dan multisivilisasional.

Pada tahun 1950-an, Lester Peason telah mengingatkan bahwa manusia akan memasuki “suatu abad ketika berbagai peradaban yang berbeda mulai belajar hidup berdampingan secara damai, saling memahami antara satu dengan yang lain, mempelajari sejarah, cita-cita, seni, dan kebudayaan serta saling memperkaya kehidupan masing-masing. Sebagai dampak dari kondisi dunia yang semakin menyempit ini terjadi kesalahpahaman, berbagai ketegangan, benturan dan bencana.” Masa depan perdamaian (dunia) dan peradaban bergantung pada adanya sikap saling pengertian dan kerjasama di antara tokoh-tokoh politik, spiritual dan intelektual dari peradaban-peradaban besar dunia.

Dalam kaitan dengan benturan peradaban yang terjadi, Eropa dan Amerika dihadapkan pada dua kemungkinan: saling bekerja sama atau saling terpisahkan. Dalam benturan yang lebih besar, “benturan nyata” secara global antara peradaban dan barbarisme. Peradaban-peradaban besar dunia, dengan kekayaan dalam hal agama, seni, kesustraan, filsafat, ilmu pengetahuan, teknologi, moralitas, dan (ajaran) kasih, juga dapat menjadi penyebab terjadinya persatuan atau perpecahan. Dalam era baru, berbagai benturan antar-peradaban merupakan ancaman terbesar terhadap perdamaian dunia, dan sebuah tatanan internasional yang didasarkan pada (landasan) peradaban merupakan ‘pengaman utama’ yang dapat mencegah terjadinya perang dunia.

“Sebuah kerangka pikir penuh tantangan yang menawarkan gaya pembacaan baru dalam memahami realitas-realitas politik global kontemporer… buku paling penting pasca perang dingin” (Henry A. Kissinger).

Membaca buku ini membuat saya kembali merasakan atmosfer perkuliahan ketika saya masih kuliah pada jurusan Hubungan Internasional sebuah Peruruan Tinggi Swasta di Yogyakarta. (Nai)

 

                                                                

 

 

 
 

Iklan

2 Komentar

Filed under Social Politic

2 responses to “Memahami Pergeseran Peradaban dalam Dunia yang Berubah

  1. max

    Covernya mana? Coba baca francis fukuyama juga deh Nai… Buat perbandingan

  2. tata chemiawan

    Huntington mencoba membuat hegemoni pemikiran. Kini, semua negara berpikir dan bersiap-siap untuk menghadapi benturan atau lebih kasar lagi sebuah perang peradaban.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s