Mengenal Dunia Meski Dengan Keterbatasan

Moga-bunda

Judul       : Moga Bunda Disayang Allah
Penulis     : Tere-Liye
Penerbit    : Republika
Cetakan     : II, Maret 2007
tebal       : 246 Hlm

Ini adalah Novel kedua Tere-Liye, setelah sukses dengan novel pertamanya yang berjudul Hafalan Shalat Delisa yang mengharu biru dan menguras energi spiritual. Kembali Tere Liye  mengusung cerita beraroma religi.  Namun berbeda dengan judul yang  kental unsur religinya, Tere menyajikan cerita dengan  sangat akrab, sehingga novel ini mampu menginspirasi dan memberikan memotivasi bahwa keterbatasan fisik bukanlah hal yang patut disesali karena dunia dan seisinya tidaklah terputus hanya  karena keterbatasan.

Novel ini diilhami oleh kisah nyata Helen Adams Keller (Alabama 1880–1968). Hellen sebenarnya tidak terlahir buta dan tuli ( sekaligus bisu), hingga usia 19 ketika keterbatasan itu datang. Ibunya membawa Hellen menemui Alexander Graham Bell yang saat itu sedang menangani anak-anak tuli. Bell, menyarankan Hellen dan ibunya ke Institute Perkins for The Blind, di Boston. Institut ini lalu mengirimkan Anne Sullivan untuk menjadi guru Hellen. Dan setelah menemui banyak kesulitan, Hellen akhirnya menemukan cara untuk berkomunikasi ketika ia menyadari gerakan jari gurunya di telapak tangan  bersamaan dengan aliran air sebagai simbol dari kata : air.

Novel ini menceritakan seorang anak bernama Melati  bocah berusia 6 tahun yang buta dan tuli sejak dia berusia 3 tahun. Selama 3 tahun ini dunia melati gelap. Dia tidak memiliki akses untuk bisa mengenal dunia dan seisinya. Mata, telinga dan semua tertutup baginya. Melati tidak pernah mendapatkan cara untuk mengenal apa yang ingin dikenalnya. Akibatnya Melati menjadi frustasi, sering mengamuk, dan acap sulit dikendalikan.

Orang tua Melati adalah orang kaya. Tim dokter ahli sudah didatangkan untuk membantu memulihkan dan mengendalikan Melati. Namun nihil, bahkan salah satu dokter mengalami luka parah di jarinya (nyaris putus) karena gigitan Melati.

Dalam novel ini diceritakan tokoh yang bernama Karang, yang akhirnya menjadi guru Melati. Sesuai namanya, Karang adalah pribadi yang keras bak karang di lautan. Ketus, jutek, dan sangat tidak menyenangkan. Hal yang melatar belakangi perilaku karang yang jutek dan cenderung kasar ini  adalah  peristiwa  ketika 18 anak didiknya tewas dalam kecelakaan perahu tiga tahun lalu. Karang telah kehilangan semangat hidupnya dan merasa sangat  bersalah atas peristiwa tersebut. Namun demi cintanya terhadap anak-anak Karang akhirnya datang memenuhi permintaan Bunda untuk mendidik Melati.

Hanya seminggu waktu yang diberikan tuan HK (ayah Melati) kepada Karang untuk mendidik Melati. Tuan HK sangat tidak setuju bila putri semata wayangnya dididik oleh pemuda kasar dan gemar minum minuman keras. Namun demi Bunda yang berkeyakinan dan menaruh harapan besar atas kesembuhan Melati, Tuan HK mengizinkan Karang menjadi guru dan mendidik Melati.

Sungguh tidak mudah untuk menemukan metode pengajaran bagi Melati. Bagaimana Melati bisa mendengar apa yang dikatakan Karang sementara Melati tuli ?. Melati buta sehingga tidak tidak terbuka segala hal untuk dia tahu. Semua yang ada hanya gelap dan sunyi. Dia tidalk mempunyai cara untuk mengenal apa yang ingin dia kenal. Sampai akhirnya keajaiban datang ketika air mancur membasuh tangan Melati, Melati tertawa…dan itu adalah kali pertamanya Melati tertawa. Karang menuliskan kata air, dan meletakkan telapak tangan Melati ke mulutnya sambil mengatakan a-i-r. Akhirnya Melati dapat mengerti bahwa benda itu bernama air. Sejak itu, Melati belajar melalui telapak tangan tempat bermuara semua panca indra. Dunia Melati menjadi terang sejak saat itu.

Novel ini menarik, namun terus terang, dari awal saya  sudah merasa terganggu dengan beberapa hal. Terutama dari cara penulis menuturkan kisah-kisahnyanya.

Pertama, saya sering kehilangan frame waktu. Kisah-kisahnyanya kadang berlompatan dari satu frame waktu ke frame waktu yang lain tanpa urutan yang jelas dan tanpa penjelasan kepada pembaca tentang sedang berada di waktu yang mana saat itu. Lihat saja di halaman 22, sebelumnya menceritakan Salamah ; pembantu teladan, kemudian Melati yang mengamuk Tya dan memecahkan kaca jendela dengan tembikar cina yang mahal, kemudian melompat menceritakan Karang yang tertidur ditemani mimpi-mimpi.

Kedua, pengulangan kalimat “Mata hitam biji buah leci” untuk menunjukkan mata milik Melati, kenapa tidak dikatakan saja Mata Melati. Toh di awal pembaca sudah tahu bahwa mata hitam biji buah leci itu adalah mata Melati.

Ketiga, Penamaan tokoh Tuan HK sebagai ayah Melati, kenapa harus dengan inisial? Kenapa ibu Melati dipanggil Bunda, tidak Nyonya HK?. Ini membuat pembaca, terutama saya…melipat dahi (meminjam istilah Tere-Liye). Awalnya saya malah mengira Tuan HK ini bukan ayah Melati, bukan suami Bunda, karena Bunda dan Tuan HK adalah pasangan dengan  panggilan yang sangat tidak klop.

Keempat, Ibu-ibu gendut, dalam benak saya ada lebih dari satu ibu yang berpostur tubuh  gendut dan setia menyiapkan termos air panas, ransum, dan memberikan perhatian buat Karang. Ibu-ibu..adalah untuk menamai benda jamak, lebih dari satu. Kanak-kanak pun begitu. melati masih kanak-kanak itu adalah benar, tapi untuk kanak-kanak itu (dengan menunjuk Melati) sebagai obyeknya dirasa kurang pas.

Kelima, Ada yang berlebihan. Ada hal-hal yang terasa terlalu dilebih-lebihkan atau terasa tidak pas dengan kenyataan. Bunda lebih memilih Karang untuk mendidik Melati. Karang yang kasar, pemabuk, dan Melati sampai sakit dibuatnya. Ibu mana yang tega membiarkan putrinya, sekalipun cacat di didik oleh lelaki berperangai kasar dan tidak tahu sopan santun.

Yah, walaupun begitu banyak keluhan atas gangguan2 yang saya rasakan di novel ini, tapi saya menutupnya dengan perasaan dan kesan yang menyenangkan. Sebuah gambaran kehidupan yang menyentuh dan mampu memotivasi kita yang utuh. (Nai)

 

Iklan

6 Komentar

Filed under Novel

6 responses to “Mengenal Dunia Meski Dengan Keterbatasan

  1. selama ini, tulisan tere-liye yang aku baca selalu mengesankan, mengharukan, pilihan kalimat-kalimatnya selalu indah dan membuat kita berpikir dalam 🙂

  2. max

    Hmmm.., kalau dari reviewnya bagus, tapi kalo ada kekurangan2 seperti itu, berarti gak bagus dunks :))

  3. isma

    hai mbak unai… review bukune apik tenan… besok giliran buku dr t4ku dunk hehe… aku kerja di Matapena-LKiS… mpe ketemu besok sabtu ya… (kalo jadi… 🙂

  4. walah, seppp tenan……….
    menerima review tulisan blog pora Mbah ??? biar lbh baik, gt…..hehehhe……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s