Sebuah Simbol dan Semangat Eksistensi

 

 

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Judul : Gelang Giok Naga
Pengarang : Leny Helena
Penerbit : Qanita, Bandung
Cetakan : I, November 2006
Ukuran : 319 halaman

Penulis novel ini adalah seorang wanita cantik bernama Leny Helena yang saat ini menetap di Houston, Texas. Leny merupakan alumni Fakultas Hukum Universitas Indonesia dan Gelang Giok Naga ini adalah novel perdananya, sebuah cikal bakal sayembara mengarang Cerber Femina 2004 yang telah ia menangkan.

Leny mengatakan bahwa naga memegang peranan penting dalam masyarakat Cina, ia tidak hanya sebagai simbol kebanggaan kekaisaran, namun juga sebagai pelindung sekaligus pembawa bencana yang tidak bisa diremehkan.

Sungguh, Leny Helena membuka cerita dengan prolog yang sangat memukau, menghadirkan cerita bak dongeng putri menjelang tidur. Diceritakan semenjak dinasti Han (300 SM) naga dijadikan lambang kekaisaran sebagai kekuasaan yang absolut dari seorang kaisar, bahkan kaisar-kaisar Cina dipercaya sebagai keturunan langsung dari naga. Ada empat sungai besar di Cina berasal dari empat naga berhati mulia yang ingin menyelamatkan manusia dari kelaparan karena kekeringan. Hujan tak kunjung turun, membuat keempat naga tersebut mengupayakan berbagai cara agar segera turun hujan. Namun setelah hujan turun, seorang Kaisar bernama Kumala murka, karena naga-naga tersebut tidak mendapat izin untuk menurunkan hujan ke muka bumi. Lalu, kepada dewa gunung kaisar Kumala meminta agar dewa gunung agar mencari empat gunung untuk memenjarakan keempat naga itu ke dalam perutnya. Keempat naga lalu mengubah diri mereka menjadi sungai yang mengalir dari ketinggian gunung ke arah lembah menuju arah timur dan akhirnya bermuara ke laut. Sejak itu, masyarakat Cina sering menyebut diri mereka sebagai keturunan naga.

Dikisahkan di dalam novel ini seorang selir kesayangan Kaisar Jia Shi bernama Yang Kuei Fei. Dia dihadiahi sepasang gelang yang terbuat dari batu giok murni dengan hiasan naga emas didalamnya. Adalah Kasim Fu yang termasuk petinggi istana menentang rencana kaisar Jia Shi untuk memperluas daerah kekuasaannya hingga ke Korea. Meskipun rencana memperluas daerah kekuasaan ini didukung oleh beberapa menteri, namun tidak sedikit juga menteri yang menentang keinginan sang Kaisar karena mereka menganggap situasi di dalam negeri banyak yang masih harus dibenahi. Maka Kasim Fuia membujuk Yang Kuei Fei untuk memata-matai dan membujuk Kaisar untuk membatalkan niatnya.

Namun pada suatu malam Kaisar Jia Shi terbunuh karena seseorang telah menaruh racun dalam semangka yang dimakannya. Yang Kuei Fei yang sedang mengandung anak Kaisar takut dituduh sebagai pembunuh kaisar, ia lalu melarikan diri bersama Kasim Fu dengan membawa perhiasan-perhiasannya termasuk sepasang Gelang Giok Naga. Yang Kuei-Fei kemudian melahirkan anak kaisar, namun ia meninggal dunia di sisi laki-laki yang dicintainya ; Kasim Fu, karena penyakit ganas yang bersemayam di tubuhnya. Namun sebelum meninggal dunia Yang Kuei-Fei berkata, “….akan kucari kau walau seribu tahun lagi…. Jika saat itu tiba, akan kukatakan betapa aku sangat mencintaimu.” Ughh..saya cukup dibuat termehe-mehe oleh kalimat ini.

Novel ini sarat dengan muatan historis-sosiologis. Rentang waktu yang panjang dalam novel ini (1723-2001) membuat pembaca seakan diajak memahami Cina di abad ke 18. Lalu. Pada tahun 30-an dipaparkan pula kondisi sosial etnis Tionghoa di Batavia. Rentang waktu yang panjang (ini pula yang kemudian menjadikan novel ini berbeda dengan novel-novel lainnya. Unik dan sangat mengagumkan.

Semangat eksistensi keperempuanan yang begitu kuat juga dituturkan dalam novel ini. Hal ini dicerminkan oleh tiga orang wanita yang bernama A Lin, A Sui dan Swanlin. A Lin, wanita tegar dan pandai, serta baik ketika ia menjadi Nyai. Ia adalah Nyai yang cerdas dan mau belajar banyak hal. A Sui adalah wanita yang digambarkan sebagai wanita yang berhasil mengatasi kesulitan hidup ketika ditinggal mati suaminya. Ia bersudah payah menghidupi tujuh orang anaknya. Tanpa dinyana kemudian putra A Lin menghamili putri A Sui, dan mereka harus menikahkan keduanya. Lahirlah Swanlin, cucu A Lin dan A Sui. Swanlin merupakan perwakilan wanita modern.Ia digambarkan sebagai tokoh wanita yang cerdas dan berperan dalam perjuangan reformasi.

Swanlin hidup di tengah-tengah, antara kedua neneknya yang saling curiga. A Sui selalu berpesan padanya agar melihat-lihat apakah A Lin masih memiliki gelang giok naga yang dulu digadaikannya. Sementara itu Swanlin sendiri selalu merasa tidak dicintai oleh nenek A Lin. Hingga suatu saat, A Lin yang dingin ternyata menyimpan rasa kasih keibuan terhadap Swanlin.

Novel bentuk pemaparannya ini seperti sebuah laporan perjalanan. Dan moment kerusuhan mei 98 turut menginspirasikan Leny Helena dalam menceritakan kisah cinta swanlin dan Ruli.

Puas, rasa ini meletup-letup ketika menutup halaman terakhir novel ini. Novel ini sungguh tidak hanya sekedar menghibur, namun juga menyajikan nilai-nilai informasi, sejarah tentunya. (Nai)

Iklan

8 Komentar

Filed under Novel

8 responses to “Sebuah Simbol dan Semangat Eksistensi

  1. max

    “….akan kucari kau walau seribu tahun lagi…. Jika saat itu tiba, akan kukatakan betapa aku sangat mencintaimu.” Benar2 bikin termehe-mehe ya…..

    Novel ini memang bagus sangat. Andai saja ini ada sekuelnya atau bikin tetralogi sekalian, pastilah akan sukses krn byk yg menyukainya. Isn’t it?

  2. hahahah uda termehe mehe juga???

    Iya bagusss banget, Novel yang menceritakan masyarakat etnis Cina selalu menarik buatku da 🙂

  3. kayaknya gelang hanya sebagai “ornamen” saja, tidak menjadi “akar silsilah” dalam keseluruhan cerita. namun buku ini memang enak dibaca, ngalir.

  4. iya betul sekali Ia…tapi after all, Leny Helena sudah mngemas sejarah dan menyajikannya dengan sangat baik.

  5. Novelnya, keren banget.. mengingatkan kita pada sastra indonesia… ! negara kertagama.. tukeran link yuk..!!!!

  6. Leny

    Dear Unai, thanks for such a beautiful review. Daku cuma bisa melemparkan seutas benang perkenalan, yang kutahu ujungnya tak sampai di nusantara tapi ia melayang menggapai …terima kasih.

    Maklum karena tempat tinggalku yang jauh ini, aku tahu respon thd buku GGN biasanya dari teman atau kenalan yang kebetulan melihat resensinya di web atau koran.

    Salamku yang paling hangat
    Leny Helena

    • tasha

      wow . . aku baru aja selesai baca Gelang Giok Naga.
      Waktu ke bookstore liat novel ini langsung kepincut meski baru pertama kalinya liat & ga pernah tau ttg novel GGN. Ada feeling pasti bagus ternyata memang, aku sangat puas 🙂

      Ditunggu sekuelnya 🙂

      Regards,
      ur new reader, tasha

  7. @ Prim : Ok boleh banget Prim 🙂

    @Leny : Wah saya yang seharusnya bangga, review saya juga dibaca penulis favorit saya…salam kenal, saya tunggu buku berikutnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s