Tak Ada Kelamin Disini ???

 

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Judul: Kota Tanpa Kelamin
Pengarang: Lan Fang
Penerbit: Mediakita, Jakarta
Cetakan: I, 2007
Ukuran: 13 x 19 cm, x + 148 halaman

“Kota Tanpa Kelamin”, begitu Lan Fang menjuduli buku Kumpulan Cerita Pendek bersampul ungu ini. Muncul pertanyaan ketika saya menimbang-nimbang buku ini, sebelum akhirnya menyobek dengan paksa segel sesaat setelah saya membayarnya di kasir sebuah toko buku ternama di kota saya. “Ada apa dengan kota itu? kota tanpa kelamin itu ?”. Masih, pertanyaan sama menggelitik rasa ingin tahu saya akan isi buku yang hanya berukuran kecil dan tipis ini. Ternyata yang dijadikan judul buku kumpulan cerpen ini adalah “Kota Kelamin Itu Kosong” tapi kenapa jadi berubah menjadi menjadi “Kota Tanpa Kelamin” ya ???.

Buku ini hanya setebal 148 halaman saja, Biasanya buku dengan jumlah halaman yang tidak terlalu banyak seperti ini saya habiskan dalam sekali duduk saja. Sebagai teman minum kopi sepulang kerja, atau sebagai pengantar tidur di malam harinya. Ternyata saya salah…!!! Kumpulan Cerita karya Lan Fang yang mengetengahkan 12 cerita andalannya ini tidak lantas tuntas saya baca dalam waktu singkat. Saya tenggelam dalam katanya. Meski ringan namun menyeret saya jauh dalam pengembaraan imajinasi. Indah…itu saja !!

Sesuai namanya mungkin, Lan Fang seolah meneriakkan dengan LanTang kata kata yang mengandung unsur seksualitas juga dengan ringan dan gamblangnya mendeskripsikan aktivitas seksual.

Cerita dengan judul “Pantat” (hal. 89), menjadi cerita favorit saya . Diceritakan seorang wanita kaya raya, hidup serba melimpah, memiliki tubuh yang nyaris sempurna. Meskipu telah menikah selama tujuh tahun tapi tidak juga memiliki keturunan. Ia ingin menukar apa yang ia miliki (pantat yang bagus, perut yang rata, buah dada yang montok) asal ia memiiki anak. Tapi sayang…rahimnya sudah diangkat melalui operasi tumor yang bersarang di rahimnya.

Berbeda dengan perempuan kaya ini, tukang pijatnya adalah orang yang miskin namun memiliki rahim yang subur. Anaknya banyak, dan ia kesulitan menafkahi anak-anaknya. Dari cerita ini kita bisa mengkap kritik sosial yang ingin disampaikan Lan Fang dengan menggambarkan bentuk pantat orang kaya sangat berbeda dengan pantat orang miskin.

“Ingat tentang pantat, hatiku menjadi nyeri mendadak. Ternyata kemiskinan pun dapat terbaca dari pantat. Bagaimana mungkin aku bisa merawat pantatku, seperti perempuan cantik yang kaya ini, sedangkan untuk merawat wajah dan tanganku saja, tidak memungkinkan, karena harus berlomba dengan perut anak-anakku. Berapa lembar ribuan yang kukumpulkan dari mencari barang bekas di tumpukan sampah, lebih berarti untuk membeli beras dan tempe supaya anak-anakku tidak meringkuk lapar dan dingin, daripada untuk membeli bedak wajah, apalagi untuk merawat pantat“. (hal. 92-93)

Ada lagi Selain “Pantat”, perempuan yang gemar seklai mandi ini mengajak kita mengembangkan sayap fantasi lebar-lebar pada cerita yang berjudul “Ini tidak Gila!” (hal. 43) dan “Anak Anjing Berkepala Kambing” (hal. 31), dan “Kota Kelamin itu Kosong” (hal. 135) yang kemudian diangkat menjadi judul kumpulan cerita pendek ini.

Lan Fang, penulis yang produktif ini seolah mengajak kita untuk tidak sekedar membaca. Ia juga mengajak kita berenang renang di arus cerita yang ia ciptakan. Cerita-cerita imajinatif. (Nai)

Iklan

1 Komentar

Filed under Short Stories

One response to “Tak Ada Kelamin Disini ???

  1. max

    Sebagai buku pertama Lan Fang yang da baca, Kota Tanpa Kelamin ini memang bagus, sehingga menggelitik keinginan untuk membaca buku2nya yang lain. Sayangnya belum sempat hunting ke toko buku untuk nyari karya lamanya itu.
    Kapan2 kalau sudah ada, tunggu saja repiyunya *promosi mode on*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s