Besar Kecil Alat Vital Sebagai Tolok Ukur Keperkasaan

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Judul : Big Size
Penulis : Wibi A.R.
Penerbit : PT. Andal Krida Nusantara (AKOER)
Cetakan : I, Mei 2007
Tebal : 164 hlm

Sebagai penyuka buah pisang, saya langsung tertarik dengan cover novel dengan tajuk Big Size ini. Pisang ambon dengan warna kuning muda menggiurkan menjadi gambar utama novel ini. Sekilas, saya tangkap buku ini adalah buku pertanian yang isinya bebagai tips bertanam pisang. Tapi..olala !!!, saya salah besar. Buku ini adalah novel, ditulis di halaman muka, persis di bawah judulnya untuk menegaskan : Sebuah Novel tentang Keperkasaan Lelaki. Owww… pisang = simbol kelelakian ???. Mungkin begitulah kesan yang ingin ditonjolkan oleh aditbujubungengalabuset, disainer buku ini.

Wibi Aswara Regawa, penulis novel ini ternyata adalah seorang yang karyanya sudah tak asing lagi untuk kita. Banyak karya skenario yang dihasilkannya ; Manusia Bayangan, Sebuah Kesaksian, Taubat, Gerhana, Spontan, FTV, Terlalu Muda Untuk Bercinta, Suami 9 Bulan 10 Hari, empat Sekawan Santri, Emak Gua Jagoan, Musafir, 3 Sahabat dan masih banyak lagi yang lainnya.

 

Novel ini mengangkat Lasimin, seorang top skorer dari Perguruan Tinggi Merah Jaya sebagai tokoh utamanya. Dikisahkan bahwa Lasimin adalah pemain bola yang andal, pencetak gol yang yahud, dan mengharumkan nama Kampus Merah Jaya. Adalah Saim dan Dody sahabat Lasimin, mereka dekat karena sama0-sama berlatih bola dalam yang sama. Sehabis pertandingan sepak bola antar universitas, Lasimin bermaksud menganti kostumnya dengan baju yang masih bersih. Namun tanpa sengaja ketika Lasimin melepaskan celananya, celana dalamnya ikut lepas. Pemandangan itu sontak mengundang tawa kedua sahabatnya, Saim dan Dody. Mereka menertawakan ukuran alat kelamin Lasimin yang hanya sebesar “burung emprit”.

Berbeda dengan Saim dan Dody, Lasimin adalah lelaki yang lugu dan religius. Saim dan Dody kemudian mengajak Lasimin ke sebuah cafe’ Loeasyik untuk diperkenalkan dengan dunia malam. Ketika dalam kebingungan mencari kedua temannya yang hilang, di dalam cafe itu, Lasimin bertemu dengan Yuyun ; primadona cafe dan hanya orang tertentu saja yang bisa mengajak Yuyun berkencan. Yuyun tertarik dengan Lasimin dan langsung menariknya hingga ke lorong belakang cafe yang remang-remang. Lasimin bingung, dan Yuyun dapat menebak bahwa Lasimin masih perjaka. Yuyun juga sempat meraba alat vital Lasimin yang kecil dan Yuyun berjanji apabila “senjata” Lasimin sudah besar, Yuyun akan mengajarinya bercinta. Lasimin lega, karena Yuyun tidak jadi memperkosanya.

Lain hari, ketika Lasimin sedang berlatih bola di lapangan bersama Kirno, Saim dan Dody datang mengajak Lasimin ke Purwakarta, menemui Mak Gembrot, seorang ahli memperbesar alat vital. Rupanya Saim dan Dody adalah pasien yang berlangganan sejak lama dengan Mak Gembrot, dan terbukti “senjata” milik Dody dan Saim mengalami perubahan ukuran setelah rutin diterapi Mak Gembrot.

Karena mahar untuk memperbesar alat vital tersebut cukup mahal, akhirnya Lasimin memilih untuk memijat sendiri alat kelaminnya. Pagi, siang, sore, dan malam hari Lasimin sibuk memikirkan senjatanya…Lasimin memilih waktu yang tepat untuk memijatnya, setelah Isya, sebelum Subuh, dan stelah Dzuhur. Sembari menunggu hasil pemijatannya, Lasimin melingkari kalender, sebagai penanda sudah berapa lama upayanya dan sejauh apa upaya itu membuahkan hasil.

Sampai akhirnya Lasimin diperdaya oleh kedua temannya, Dody dan Saim untuk memijat Alice yang lumpuh. Dari memijat Alice, Lasimin mendapat imbalan 500 ribu rupiah per bulan. Kontrak kerja memijat selama 3 bulan. Ibu Alice memberikan uang banyak untuk kesembuhan Alice, namun Dody dan Saim hanya memberikan 500 ribu saja. Mengetahui hal itu Lasimin marah, dan memilih menjauhi Saim dan Dody.

Waktu berjalan, tim kesebelasan Kampus Merah Jaya dengan pemain andalan Lasimin unggul melawan Kim Dong Jun University dari Korea Selatan. Lasimin dielu elukan. Datang juga di pertandingan itu, Alice dan ibunya. Alice sembuh dan pernah bernazar, siapapun yang bisa menyembuhkan penyakitnya, kalau laki laki akan dijadikan suami, dan kalau perempuan kan dijadikan saudara. Alice meminta Lasimin untuk menjadi suaminya. Akhirnya Lasimin menikahi Alice. Dan ketika malam pertama Alice menjerit “Hah, burung garuda!!!”. Ternyata tanpa disadari Lasimin, burung emprit sudah menjelma menjadi burung garuda.

Dari segi “etika” penulisan buku yang ditulis oleh penulis skenario dan sutradara iklan layanan masyarakat dan film pendek ini, terdapat banyak kekurangan. Penggunaan kata sambung, huruf besar, serta kata penunjuk tempat diabaikan begitu saja. Selain itu, pembaca terkecoh dengan sinopsis di bagian belakang cover novel ini. Cerita yang disajikan tidak sesuai dengan apa yang saya harapkan. Kelucuan yang tidak lucu, sangat dibuat buat, konyol yang dipaksakan, dan banyak kejadian yang sangat tidak masuk akal membuat saya sama sekali tidak terhibur. Sperti menonton tayangan film komedi yang tidak lucu saja.

Coba lihat saja di hal 11 (halaman yang relatif awal) dituliskan

“Bola..bola di Lasimin, Diam diam mendekat, datang seorang kiper, Hap..hap..lalu tak dapat”(nyayikan seperti lagu cicak cicak di dinding).

Ugh…tulisan di dalam tanda kurung itu sangat menggangu.

Lagi, di hal 14 : “Bahkan Tim Merah Jaya berhasil mengalahkan 25 Universitas se-Jabotabek. Bahkan Tim Merah Jaya tercatat dalam MURI, Musium Umum Rame-Rame Indonesia karena berhasil telak 30-0 melawan Universitas Taman Kanak -Kanak Pelangi ceria. Nah, yang ini enggak bener jangan dibaca, bikin kesel doang”

Asli nggak l u c u !!!

Tambah kesel saya bacanya. Sayang sekali buku yang didesain dengan cover bagus dan harga tidak murah ini membuat saya sama sekali kecewa. (Nai)

Iklan

12 Komentar

Filed under Novel

12 responses to “Besar Kecil Alat Vital Sebagai Tolok Ukur Keperkasaan

  1. kecewa..?
    wah..gak jadi beli deh kalo gitu..?
    koq gak ada foto nya ? pengen liat covernya spt apa..

  2. max

    Awal-awal dulu juga mau beli ini. Ternyata gak bagus jah?

  3. wah senang dengan review kamu… bisa jadi guidens sebelum beli buku. hahaha…

    *harap2 cemas bakal kecewa ga baca bukuku hihihi…

  4. Imgar : Aku belum bisa scan covernya, makanya kosong begitu, lagian di inet juga aku search gak ada tuh cover si pisang itu. Nanti deh ya…

    Damax : Beli juga gpp da, kan selera beda beda…sapa tau uda yang baca bagus ceritanya hehehe

    Pak Win : saya sudah rampung next review buku Bapak ;), gak ada kecewanya sama sekali..asli 🙂

  5. loh… kok dadi ngene? wah dadi reviewer to saiki… 😀

  6. Bebek : ajar lan sinau Kang

  7. hmmmm… baca judulnya jadi tertarik

  8. Wah, moco judulmu we wis ngeri tenan kang, sori kang aku wis pindah alamat, ra kuat mbayar….

  9. nek ada versi ebook… he2.. bisa donlot ki!

  10. Sy sdh baca novel ini…memang novel ini humornya cowoq banget.
    SEbagai pembaca wanita gimana Unai membaca humor2nya..risih nggak sih…?

  11. he he iya gak jadi beli, harusnya buku itu bukan di bagian tataboga, tapi di buku keluarga, biar gak orang salah ambil

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s