Bila Erwin Bercerita

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Judul : Email dari Tanah Suci
Penulis : Erwin D. Nugroho
Penerbit : PT. ARGA Publishing
Cetakan : I, April 2007
Tebal : 204 hlm.

Bung Erwin, tatkala menulis buku ini belum genap 30 tahun usianya. Ia tidak memerlukan pujian saya bahwa dalam usia semuda anak sulung saya ia telah mencapai multi-prestasi jauh melebihi apa yang bisa saya lakukan dalam kehidupan yang hanya satu kali di muka bumi.” (Cak Nun)

Siapa tak senang mendapat bingkisan buku dari seorang teman, apalagi ini buku karyanya sendiri. Email dari Tanah Suci, begitu judul buku dengan sampul bergambar Masjidil Haram ini. Sesuai judulnya, buku ini berisi tentang perjalanan penulis selama berhaji pada 1427 H. Banyak catatan yang tertuang menjadi cerita-cerita yang menarik, yang ditulis setiap harinya selama di Tanah Suci kemudian dikirim via email kepada redaksi Radar Banjar dan Grup JPNN lain untuk dimuat.

Erwin D. Nugroho, demikian nama penulis buku ini. Usia yang hanya terpaut satu tahun lebih tua daripada saya, tak pelak membuat saya “iri” dengan segudang pengalamannya. Masih sangat muda, namun matang. Hampir seluruh kota di Indonesia telah ia kunjungi, negara lainpun begitu. China, Thailand, Singapura, Malaysia telah ia singgahi. Saya mengenalnya dari website pribadinya yang di dalamnya berisi tulisan yang humanis dan foto-foto yang memukau. Tak heran, karena ia adalah seorang jurnalis dan fotografer hebat. Berlipat lipatlah kekaguman saya, dan lengkap sudah ketika saya menuntaskan halaman terakhir buku ini.

Keterlibatannya di dalam Aksi Cepat Tanggap (ACT) ; sebuah wadah perduli kemanusiaan mempertemukan kami setahun yang lalu, ketika Yogyakarta dikoyak gempa.

Buku ini tidak terlalu tebal, hanya 204 halaman. Ada enam bab dan 40 artikel di dalamnya. Ary Ginanjar Agustian, master trainer ESQ (Emotional Spiritual Quotient) yang juga Presdir ESQ Leadership Center Jakarta dan Emha Ainun Nadjib, seorang budayawan yang digelari kiyai mbeling ini secara khusus mengapresiasi buku ini.Cak Nun menulis artikel berjudul Jurnalisme Isro’, yang diambil dari fenomena Isro’ Mi’roj Nabi Muhammad SAW. Peristiwa sepertiga malam yang menakjubkan itu dipahami Ummat Islam selama berabad abad berhenti sebagai semacam “dongeng” dan belum cukup penyadaran untuk melihatnya sebagai peristiwa ilmu pengetahuan.

Erwin bercerita dengan bahasa yang sederhana, lugas dan disertai sedikit persepsi. Membuat pembaca ikut merasakan apa yang ia lihat dan rasakan. Ditambah lagi buku ini dilengkapi foto-foto yang mengantarkan kita ikut terbang dan berada di sana. Meski larangan membawa kamera juga ia ceritakan di dalam buku ini, tapi bukan Erwin namanya kalau tidak bisa “mencuri” mengabadikan moment.

Ceritanya yang berjudul “Waktu Shalat Tiba, di Jalan Rayapun Berjamaah” membuat saya tersenyum kecut; malu tepatnya. Di Tanah Suci Ghirah untuk beribadah luar biasa besar, Shalat tepat waktu, orang-orang menghentikan aktivitas ketika waktu shalat tiba. Namun di sini ?, Masjid lengang ketika waktu shalat tiba meski masjid dibangun di mana-mana.

Pada BAB II, penulis bercerita tentang Tanah Suci yang Menawan, Membaca “Diguyur Hujan, Mekkah jadi Hangat” membuat saya tak henti mensyukuri nikmat-Nya. Hujan adalah peristiwa langka di Mekkah. Satu tahun tak lebih lima kali hujan turun. Begitu langkanya hujan di kota suci ini, sehingga bagi penduduk Mekkah air yang menetes dari langit adalah anugerah yang tiada tara.
“Makanan Sabil Selalu Jadi Rebutan” pada BAB III menceritakan bahwa orang-orang Arab Saudi yang kaya terkenal sangat suka bersedekah. Mereka membagikan jenis-jenis makanan kepada jemaah haji. Tradisi ini sudah ada sejak lama dan selalu ramai setiap musim haji. Diberi nama Sabil karena orang-orang kaya tersebut percaya bahwa bersedekah adalah cara paling mudah untuk bersedekah di jalan Allah. Jihad fii sabilillah. “Hai…apa kabar orang-orang kaya Indonesia?” demikian Erwin menutup ceritanya tentang sabil. Sebuah ending yang mencubit.

Di BAB IV, Erwin bercerita tentang “Gaya Orang Indonesia Naik Haji”. Cerita ini jelas mengundang senyum saya. Tidak hanya senyum, saya juga tertawa. BAB V tentang pertemuannya dengan Shima dan perburuan kurma. Tak kalah menarik dengan cerita-cerita sebelumnya. Dan di BAB VI (terakhir), Erwin mengajak kita merasakan Ujian Akbar di Haji Akbar. Tak cukup kata, bila harus menceritakan semua isi buku ini. Cerita sederhana yang dapat kita petik ibronya. Ah..i wish i could be there, someday..Amien… (Nai)

Iklan

9 Komentar

Filed under Religi

9 responses to “Bila Erwin Bercerita

  1. max

    Kapan ya bisa naik haji? Bikin bergetar deh kalo ngeliat gambar kabbah dan masjidil haram itu

  2. Dengan membaca ostingan ini saja saya mendapat getar yang luar biasa. Apalagi dengan membaca bukunya.

  3. aku lagi baca buku ini juga.
    waktu ke malang dan jogja juga dibawa. tapi cuma sempet baca bbrp halaman aja.
    ada banyak cerita yang kena banget di hati.
    yang bikin semakin kangen dan pengen berkunjung ke tanah suci juga..
    keren..keren..

  4. Baca ulasanmu bikin aku jadi pengen punya buku ini. Pengen naik haji di kala muda euy 😀

  5. wah seneng sekali dengan ripiyu ini… buku saya itu terlalu “ringan” sebenarnya, karena memang isinya yg ringan-ringan semua hehehe. kalo kata cak nun, tingkatannya masih “dauriyah”, sekadar reportase pandangan mata. tapi ya, gitu deh, toh baik saja menyampaikan sesuatu sebatas yang kita mampu, daripada ntar tinggi-tinggi tapi ngawur hehehe. syukron nai…

  6. duh jadi pengen naik haji, tapi kapan ya…?

  7. Saya pikir itu soal selera dan penilaian aja. Bagi saya buku bagus ya yang gamang dimengerti. Artinya, manusia itu memang beda cara pandangnya, individual differencies kali ya.

  8. Damax : Ayooo kita naik haji..nabung dulu tapi 😉

    Tukeranlink : Ini memang buku bagus

    Imgar: Wah bukunya banyak Im, koleksinyapun tampaknya beragam yah.

    Indahjuli : Yiukkk beli 😉

    Pak WIn : Saya lebih seneng Pak, ripyunya jelek ya ? masih belajar pak 😉

    Ammo : Nanti ada saatnya Mo

    Pak Ersis : Saya setuju, buku yang saya sukapun buku yang memahaminya gampang…mmm nanti saya cari buku Pak Ersis ya 😉

  9. Ping-balik: Blog ParcelBuku.Com » Blog Archive » Bila Erwin Bercerita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s