Reedukasi di Desa Terpencil

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Judul : Balzac dan Si Penjahit Cilik dari Cina
Penulis : Dai Sijie
Penerjemah : Lulu Wijaya
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : I, Februari 2006
Tebal : 240 hlm; 23 cm

Dai Sijie adalah penulis sekaligus sutradara yang lahir di China pada tahun 1954. Ia pernah menjalani “pendidikan ulang” pada tahun 1971- 1974. Masa-masa ini rupanya mengilhaminya untuk melahirkan novel perdananya yang terkenal “Balzac dan si Penjahit Cilik dari Cina”.

Cerita yang diangkat dalam novel ini adalah tentang persahabatan dua anak lelaki, Luo dan Aku yang oleh pemerintahan Mao dikategorikan sebagai “intelektual muda”. Mereka dikirim ke pedesaan untuk “dididik ulang oleh para petani miskin”. Pendidikan ulang ala Mao ini menjadi program pembersih kalangan intelektual Cina antara tahun 1971-1974.

Kedua orang tua si ‘aku’ adalah dokter terkemuka, dan kejahatan terbesarnya adalah menjadi ‘pemuka-pemuka ilmiah’. Sementara ayah Luo adalah seorang dokter gigi yang pernah membuat kesalahan besar karena menyebutkan di depan umum bahwa ia pernah merawat gigi Mao Zedong, Madame Mao, dan Jiang Jieshi. Ini adalah kesalahan besar, karena menyebutkan nama ketua Mao sejajar dengan Jiang Jieshi seorang bajingan.

Aku dan sahabatnya Luo ditempati di sebuah desa yang termiskin diantara semua desa di kaki gunung. Tak ada yang bisa dilakukan setiap harinya kecuali bekerja di bawah pengawasan Kepala Desa di ladang, di tambang batu bara tradisional yang sewaktu-waktu bisa rubuh, hingga memikul ember-ember tinja sambil menaiki lereng gunung ke ladang-ladang yang sebagian besar terletak di ketinggian. Dan hiburan mereka satu-satunya adalah sebuah biola.

Jelas, reedukasi/pendidikan ulang itu terasa berat bagi mereka berdua. Mereka harus menghadapi beratnya bekerja sebagai petani dan berusaha tak banyak berharap untuk secepatnya kembali ke pangkuan keluarganya. Maklum, mereka adalah harus menghadapi reedukasi dalam pengawasan ketat kepala desa. Jika mereka melanggar sedikit saja maka mereka bisa dilaporkan kepada Partai Komunis dan itu artinya siksaan dan reedukasi yang panjang telah menunggu.

Dai Sijie kemudian menyuguhkan cerita tentang Kepala desa yang bodoh namun sok pintar. Ia juga menceritakan ragam ketlolan orag-orang desa yang gigih mendukung Revolusi Kebudayaan (1966-1976) Mao Zedong yang sangat berkuasa.

Dengan bekal biola, Lou dan Aku mengikuti program pendidikan ulang itu. Dan anehnya “guru” mereka tidak tahu bahwa biola adalah alat musik. Tak hanya biola yang dilarang dimainkan di depan umum, buku-buku juga idak boleh dibaca kecuali buku karangan Mao dan lagu musik untuk memuji Mao. Buku-buku karya pengarang Barat sangat dilarang dan harus dimusnahkan.

Untunglah, Luo yang memiliki kemampuan bercerita yang baik dan lambat laun berhasil memikat penduduk dan Kepala Desa. Luo dan si ‘aku’ menceritakan kembali film2 yang pernah mereka tonton semasa tinggal di kota dengan penuh ekspresi kepada penduduk desa. Karena senang sekali dengan cerita2 Luo, Kepala Desa memberikan kesempatan kepada mereka berdua pergi ke kota terdekat untuk menonton film terbaru setiap bulan sekali. Dan setelah itu mereka harus menceritakan kembali film itu di hadapan penduduk dengan durasi yang sama dengan film yang sesungguhnya. Satu hal yang sangat menyenangkan bagi mereka. Sama menyenangkannya dengan perkenalan mereka dengan ‘Putri Gunung Hong’ alias ‘Si Penjahit Cilik’ dari desa sebelah. Si Penjahit Cilik juga terpukau dengan cara Luo bercerita.Merekapun tak pernah bosan kembali lagi kesana untuk mendongengi Si Penjahit Cilik.

Di kaki gunung Hong, Aku dan Luo memiliki seorang teman yang dijuluki Mata Empat yang ‘dididik ulang’ di desa yang berbeda dengan mereka. Aku dan Luo mengunjungi Mata Empat yang ternyata menyimpan sebuah koper rahasia yang berisi buku-buku karya sastrawan barat klasik yang telah diterjemahkan kedalam aksara Cina. Di masa Revolusi Kebudayaan, buku-buku tersebut termasuk dalam barang yang terlarang. Ketahuan menyimpannya saja bisa menimbulkan bencana dan harus berurusan dengan Kementrian Keamanan yang kejam. Aku dan Luo sangat tertarik dengan buku-buku dalam koper tersebut.

Awalnya Mata Empat tak mau meminjamkan buku-buku itu pada mereka, mereka tak kehilangan akal, agar Mata Empat bersedia meminjamkan buku-bukunya, mereka bersedia mengambil alih pekerjaan Mata Empat memikul beras ke pangkalan. Akhirnya, tergerak oleh kebaikan Aku dan Luo, Mata Empat meminjamkan sebuah buku tipis dan usang karya Balzac. Begitu memperolehnya mereka segera membacanya dan langsung terpikat oleh cerita yang tersaji dalam buku tersebut. Jiwa mereka seolah terbebaskan dari kungkungan rutinitas yang membosankan, wawasan dan pengetahuan mereka bertambah.

Kisah jenaka dengan latar belakang kepedihan ini ditulis oleh Dai dari tanah pelariannya, Perancis pada tahun 2000. Novel ini tersaji dalam tuturan yang riang sehingga tidak terasa berat dan membosankan. Tak heran jika hak penerbitan novel ini telah dijual ke 19 negara. Dai Sijie yang juga seorang sutradara ini kemuadian mengangkatnya ke dalam film “Balzac and the Little Seamstress”, pada tahun 2002.


Iklan

10 Komentar

Filed under Novel

10 responses to “Reedukasi di Desa Terpencil

  1. max

    wah.., bagus bukunya ya? jadi tertarik nih utk baca juga… titip salam buat mao zedong, hoa3x

  2. wku

    kalo di sini ynag ngetop Empat Mata, hehe… kayaknya tertarik nih kalo kisahnya jenaka

  3. Kayaknya asyik juga baca neh … aku barusan baca MAO yang tebal itu

  4. @Damax : Bagus da..makasih ya buku pemberian uda emang bagus bagus 🙂

    @WKU : heheh iya, di sini mah empat mata yanng ngetop…

    @Ersis : Aku juga pingin baca MAO pak…tapi masih banyak hutang baca..numpuk euy, tau kapan ya bacanya?

  5. wah…kok ketoke buku ne akeh tenan…mbak pinjem dong.

  6. Iya…blog ini keren. Saluut…!

  7. Buku ini membuat diriku makin suka baca karya2 sastra dunia.
    Kecintaan tokoh2nya pada buku Balzac dan bagaimana mereka begitu berkorban hanya untuk membaca buku bikin aku ‘merinding disco’

  8. Wow… durasinya cerita luo asli ya sepanjang durasi filmnya? capek juga ya?

    saya masih kurang mengerti tentang arti reedukasi disini…
    maksudnya apa ya?

    mantap nih…
    makin pengen baca novel aja nih setelah baca blog ini…

  9. Tia

    salam kenal nan hangat, wah blog resensi buku nih….informatif banget bagi kutu buku kaya saya…thanks

  10. Ping-balik: Blog ParcelBuku.Com » Blog Archive » Reedukasi di Desa Terpencil

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s