Liuk Kata Bak Angin Menari

 

Judul : Tarian Angin
Penulis : Sondri BS
Penerbit : Dewan Kesenian Sumatera Barat.
Cetakan I : Maret 2007
Tebal :116 hal.

Saya terpukau membaca bait-bait kata yang terangkum dalam buku Kumpulan Puisi Sondri BS yang berjudul Tarian Angin ini. Buku bersampul biru muda dengan gambar pusaran angin di tengahnya, sekilas tidaklah terlalu menarik. Tidak ada yang menonjol, sederhana… mungkin ini yang ingin dicitrakan oleh Yuzrizal KW, sebagai disainer kulit muka buku ini. Dalam satu buku saya menemukan dua penulis yang belakangan saya cari karya-karyanya. Ya.. Yusrizal KW, penulis buku Kembali Ke Pangkal Jalan; Sebuah Kumpulan Cerita Pendek, dan Hasrat Membunuh ini berkolaborasi dengan Sondri BS dalam kerjasama yang unik. Sondri menulis dan Uda Yus mendisain sampulnya.

Sondri BS, seorang Minang, merupakan alumnus Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Padang. Bagi pembaca yang tak melewatkan kolom-kolom puisi di Koran Tempo dan Harian Umum Kompas, pasti tidak asing dengan sosok muda ini. Puisinya pun kerap dimuat di majalah Sastra, Majalah Horison, Majalah Budaya Gong dan koran daerah yang terbit di Padang.

Tidak hanya puisi, Sondri juga menulis novel yang berbentuk Cerita Bersambung dan dimuat pada Harian Umum Singgalang dengan judul Pisau Tanah Air dan Jalan Kecil Menuju Rumah.

Tarian Angin adalah buku dengan pencitraan yang sempurna dan inilah yang membuat puisi-puisi yang terangkum dalam buku ini menjadi sempurna indahnya. Peran pencitraan tersebuat adalah menjadi penghubung antara imaji pembaca dengan intuisi penyairnya. Sondri sangat piawai mengolah kata, pemilihan diksi yang tidak asal comot. Sepertinya puisi-puisi ini lahir dari sebuah perenungan yang dalam.

Sondri tidak semata memenfaatkan tipografi untuk membangun kepuitisan. Ia menulis dengan sangat biasa,namun sempurna membangun sebuah image, membangkitkan daya bayang pembacanya. Hampir di setiap puisinya pembaca dapat menjumpai kata sunyi, perih, hujan, gerimis, senja, kabut dan beberapa kata lain yang menyiratkan kemuraman. Seperti puisi yang berjudul Di Antara Runtuhan Puing Hati, ini :

Masih terdengar sisa tangismu
di antara runtuhan dan puing
bayangan bulan suram
dan laut merah

Masih terbayang sisa mimpimu
di balik awan, langit yang luka
Kemana berlari segenap yang kau simpan
dalam ruang dada

Ah, Waktu begitu cepat kelebatnya
Tak ada saat mengenang lagi
Semuanya telah tuntas
dalam satu ucapan kalimat Tuhan
dan satu helaan nafas
yang menggigil ketakutan

-sehari sebelum ulang tahun kekasihku- (hal 28)

Namun ada pula puisi yang gemulai menyiratkan optimisme, Lukisan Terindah (hal 32)

Hujan-hujan begini jangan menangis
Murung daun-daun sebentar lagi hilang
kita sama-sama merindu matahari
Kehangatan dan cahaya yang memberi rumah

Bermusim kesedihan menciptakan pohon tua
dan burung-burung di langit yag muram
Tapi kupu-kupu masih indah dan lincah selincah hatimu
Tetaplah bersiul dan bernyanyi ‘ntuk hidup yang sunyi

Bila kembali ke rumah, tataplah foto-foto usang
Masa lalu yang berjalan diam-diam mendekapmu
Kerinduan yanng berburu dengan kecemasan kecil

Kita kanak-kanak dalam satu rumah
Bermain di halaman suat pagi
Lalu menangis memandang hari depan
Terasa hidup bagai lukisan indah, sangat menawan

Manis sekali meski kontradiksi, Sondri memandang gambaran masa depan dengan menangis karena masa depan yang suram, namun yang lahir kemudian justru lukisan indah, hidup yang diibaratkannya.

Ada 105 buah sajak di dalam buku ini. Kesemuanya gemulai seperti arus angin, angin yang menari yang bermuara pada kesenduan. Buku ini wajib dimiliki bagi anda pencinta sastra. (Nai)

Iklan

7 Komentar

Filed under Poems

7 responses to “Liuk Kata Bak Angin Menari

  1. max

    Ini dia, di Sumbar itu banyak lahir pengarang, cerpenis, sastrawan, budayawan, penyair, dan,,,, juga penyiar 🙂

  2. Tapi emang kok da, penulis minang TOP banget dah. Titip salam buat Yusrizal KW yah da

  3. lho Yusrizal KW..SOdri BS juga da..sekalian hehhe

  4. Wah … raso pulang kampuang … E … aku minta alamat Unai

  5. … menulis dengan sangat biasa,namun sempurna membangun sebuah image, membangkitkan daya bayang pembacanya.

    Itu dia tantangannya! Banyak orang berusaha menulis serumit mungkin biar kelihatan cerdas. Yang terjadi adalah, pembaca bertanya? “Ni orang, ngerti bahasa Indonesia ngga ya?”

  6. nono

    taraso mambangkik carito lamo baliak mambaco puisi sondri

  7. ketika usai membaca “tenggelamnya kapal van der wick”, saya pun berkesimpulan bahwa orang Minang sejak dulu telah mentradisi dunia tulis-menulis, bukan dunia lisan. Karena itu, saya tidak heran lagi ketika orang Minang banyak yang “pandai” termasuk pandai menulis.Maaf, saya bukan orang yang suka negambung. tapi ini memang fakta..ya gak. he..he..he…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s