Monthly Archives: September 2007

Travelers’ Tale : Sebuah Karya Keroyokan

travelers

Judul : Travelers’ Tale Belok Kanan : Barcelona

Penulis : Adhitya Mulya, Alaya Setya, Iman Hidajat, Ninit Yunita

Penertbit : Gagas Media

Cetakan : I, 2007

Tebal : x +230 hlm ; 13 x 19 cm

Novel ini adalah novel keroyokan, begitulah kira-kira. Ada empat penulis yang sambung menyambung bercerita tentang empat orang yang bersahabat sejak kecil. Persahabatan yang indah antara Francis, Yusuf, Farah, dan Retno. Ada cinta complicated di dalamnya. Yusuf mencintai Farah, namun Farah mencintai Francis, Francis mencintai Retno meski telah dua kali cinta ditolak dengan alasan perbedaan keyakinan antara keduanya. Hingga akhirnya Barcelona menjawab semuanya.

Novel memukau karangan empat Blogger ini (Adhitya Mulya, Alaya Setya, Iman Hidayat, dan Ninit Yunita) ini mengajak pembaca ikut menikmati petualangan-petualangan mereka di negeri orang. Mereka juga memberikan tips tanpa menggurui atau merasa ‘segala tau’ seluk beluk travelling. Karena pengalaman masing masing orang adalah sangat pribadi. Buku ini mengajarkan kita bagaimana ‘membeli pengalaman’ dalam suatu tempat yang kita kunjungi. Baca lebih lanjut

18 Komentar

Filed under Novel

Marhalim Mencipta Rindu

amuk tun teja

Judul             :  Amuk Tun Teja : Kumpulan Cerpen

Pengarang     : Marhalim ZainiPenerbit : Pustaka Pujangga

Cetakan          : I, Juli 2007

Tebal             : xx + 120 hlm 

Mengenal sosok Marhalim Zaini lebih dekat, membuat tak henti bibir berdecak kagum. Seorang sastrawan Riau masa kini yang pernah menerbitkan Antologi Puisi Segantang Bintang, Sepasang Bulan (Pekanbaru: Yayasan Pusaka Riau, 2003) dan Langgam Negeri Puisi (Dewan Kesenian Bengkalis, 2004), Kumpulan Naskah Drama; Di Bawah Payung Tragedi (2003), Kumpulan Esai; Tubuh Teater (2004) dan dua Novel: Getah Bunga Rimba (2005) dan Hikayat Kampung Mati yang pernah dimuat bersambung di Harian Riau Pos dan diterbitkan oleh Penerbit Adicita Yogyakarta. Kali ini ia menghadirkan suasana suram dalam Kumpulan Cerpennya dengan judul Amuk Tun Teja.

Amuk Tun Teja yang diangkat penulis menjadi judul buku Kumpulan Cerpennya ini diambil dari Cerpennya pada halaman 93, yang mengisahkan seorang nenek renta yang datang tiba tiba ke sebuah perkantoran tempat tokoh Aku bekerja. Nenek renta ini menyeracau…gila rupanya. Baca lebih lanjut

10 Komentar

Filed under Short Stories

Terbelit Dialog Panjang Tak Berarti

Judul : Miss Lu ; Putri Cina yang Terjebak Konflik Etnik dan Politik

Pengarang : Naning Pranoto

Penerbit : Grasindo

Cetakan : II, Maret 2004

Tebal : 260 hlm

“ Dalam novel ini, penggambaran Miss Lu sebagai tokoh utama begitu meyakinkan, sehingga pembaca lupa bahwa Miss Lu sebenarnya hanyalah seorang tokoh rekaan pengarangnya. Namun, Miss Lu tidak mungkin lepas dari label ‘too good to be true’, yaitu begitu sempurna sehingga dalam realita, tidak mungkin ada mahluk seperti dia. Miss Lu nyaris merupakan ‘paragon of virtuae’, yaitu lambang kecantikan, kebaikan, dan kebajikan yang hanya mungkin ada dalam fiksi ”(Budi Darma)

Membaca endorsmen Budi Darma  membuat hati saya kepincut untuk lebih jauh mengenal tokoh yang bernama Miss Lu di dalam novel setebal 260 halaman ini. Sampul muka bergambar putri Cina nan jelita melengkapkan ketetarikan saya.

Digambarkan tokoh Miss Lu dalam novel ini adalah sosok yang memesona, dengan bentuk wajah oval yang dipoles make up ala Cleopatra. Ia eksotis, seperti gadis-gadis mesir dengan tinggi badan yang diperkirakan 170 an cm. Wajahnya cantik seperti bintang telenovela meski ia keturunan Cina. Baca lebih lanjut

5 Komentar

Filed under Novel

Si Bejo Yang Untung ; Sebuah Perenungan

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Kiai Bejo, Kiai Untung, Kiai Hoki
Penulis : Emha Ainun Nadjib
Penerbit : Penerbit Buku Kompas
Tebal : 258 Halaman
Cetakan : Juni, 2007

Sungguh siapa saja yang duduk dalam struktur pemerintahan negeri ini adalah “Kiai Bejo”, “Kiai Untung” atau “Kiai Hoki”. Orang yang mendapatkan keuntungan meskipun tanpa bekerja. Salah satu pameo membuat rumus: orang bodoh kalah oleh orang pandai, orang pandai kalah oleh orang berkuasa, orang berkuasa kalah oleh orang kaya, orang kaya kalah oleh orang “bejo”. Setiap pemerintah Indonesia tidak terlibat dalam konstelasi pameo itu, sebab mereka sekaligus pandai, berkuasa, kaya dan “bejo”. (Cak Nun).

Kiai Bejo aka Kiai Untung dalam bahasa Jawa, atau Kiai Hoki dalam bahasa Cina. Demikian kiranya kemudian Emha Ainun Nadjib yang akrab dipanggil Cak Nun menjuduli kumpulan esainya dengan “Kiai Bejo, Kiai Untung, Kiai Hoki”. Judul yang menggelitik dan menggugah rasa ingin tahu pembacanya. Kira-kira apa yang ingin diangkat oleh seorang budayawan dalam bukunya yang bersampul gambar diri dalam bentuk kartun ini?. Kita simak saja… Baca lebih lanjut

5 Komentar

Filed under Esai