Si Bejo Yang Untung ; Sebuah Perenungan

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Kiai Bejo, Kiai Untung, Kiai Hoki
Penulis : Emha Ainun Nadjib
Penerbit : Penerbit Buku Kompas
Tebal : 258 Halaman
Cetakan : Juni, 2007

Sungguh siapa saja yang duduk dalam struktur pemerintahan negeri ini adalah “Kiai Bejo”, “Kiai Untung” atau “Kiai Hoki”. Orang yang mendapatkan keuntungan meskipun tanpa bekerja. Salah satu pameo membuat rumus: orang bodoh kalah oleh orang pandai, orang pandai kalah oleh orang berkuasa, orang berkuasa kalah oleh orang kaya, orang kaya kalah oleh orang “bejo”. Setiap pemerintah Indonesia tidak terlibat dalam konstelasi pameo itu, sebab mereka sekaligus pandai, berkuasa, kaya dan “bejo”. (Cak Nun).

Kiai Bejo aka Kiai Untung dalam bahasa Jawa, atau Kiai Hoki dalam bahasa Cina. Demikian kiranya kemudian Emha Ainun Nadjib yang akrab dipanggil Cak Nun menjuduli kumpulan esainya dengan “Kiai Bejo, Kiai Untung, Kiai Hoki”. Judul yang menggelitik dan menggugah rasa ingin tahu pembacanya. Kira-kira apa yang ingin diangkat oleh seorang budayawan dalam bukunya yang bersampul gambar diri dalam bentuk kartun ini?. Kita simak saja…

Tak ada yang tak kenal lelaki kelahiran Jombang 27 Mei, 54 tahun silam ini. Beliau merupakan pekerja sosial yang hidupnya lebih banyak dijadwal oleh masyarakat yang selalu setia disapanya lewat pelbagai acara dan pertemuan. Sedikitnya ada lima acara rutin yang diasuhnya seperti Padhang Mbulan di Jombang, Mocopat Syafaat (Yogyakarta), Kenduri Cinta (Jakarta), Gambang Syafaat (Semarang), dan Obor Illahi (Malang). Di luar itu, dia melayani berbagai undangan yang memintanya untuk tampil hampir di seluruh daerah Nusantara ini.

Beliau juga terbilang aktif dalam menulis, baik puisi, cerita pendek, kolom, hingga esai. Banyak hal yang dibahas dalam tulisannya yang bernada bijak. Emha mengangkat persoalan politik, agama, serta kehidupan sosial kemasyarakatan Dari Cinta Kepada Aa’ sampai Santri Teror, dari goyang ngebor Inul hingga Generasi Kempong.

Di wilayah kerajaan dangdut, Inul adalah warganya sang Raja Dangdut, atau mungkin lebih intim kalau kita sebut anaknya Rhoma Irama. Ia berada di bawah asuhan , ayoman, dan perlindungan bapaknya. Kalau si anak benar, bapak men-support-nya. Kalau anak salah bapak mengingatkannya. Kalau anak jaya, bapak bergembira. Kalau anak terpuruk, bapak menolongnya. (Hal 12).

Demikian paragraf pembuka dari tulisannya yang berjudul “Pantat Inul adalah Wajah Kita Semua”. Sebaris judul yang jelas-jelas menohok. Membincang goyangan Inul, Emha yang akrab dipanggil Cak Nun ini tidak hanya memandang pada kontroversi goyangan dasyat yang sempat mencuri perhatian semua kalangan. Di sinilah kemudian Cak Nun menceritakan ketidak konsistenan masyarakat dalam menghadapi berbagai gejala. Betapa di tengah pedangdut lain yang berlomba menciptakan “gaya baru” dalam berjoget, hanya Inul saja yang dijadikan fokus jihad Rhoma Irama.

Cak Nun mengajak pembaca untuk melihat dengan lebih jeli akar permasalahan yang ada secara terbuka terhadap berbagai kemungkinan. Meski begitu, tulisan-tulisan beliau bukanlah tulisan yang dapat dipahami dalam sekali baca. Pembaca diajak merenung dan memahami apa yang sedang dibaca. Butuh kecermatan serta ketelitian dalam membacanya.

Lihat saja dalam tulisannya yang berjudul Generasi Kempong ;

Generasi Kempong itu adalah generasi yang ompong, tak punya gigi, makan apapun tak perlu dikunyah.

“Orang kempong ndak bisa makan kacang, bahkan kerupuk pun hanya di-emut. Kalau orang punya gigi, dia bisa menjalankan saran dokter : kalau makanan harus dikunyah 33 kali baru ditelan. Sekedar makanan, harus dikunyah sampai sekian banyak kali agar usus tidak terancam dan badan jadi sehat. Lha kok tulisan, ilmu, informasi, wacana-maunya langsung ditelan jadi.”(hal 141)

Begitu beliau menanggapi kritik dari temannya yang megatakan bahwa tulisannya yang susah dipahami.

Wahhh saya ikut tersenyum, seperti temannya Cak Nun yang nyengenges. Betul juga yaaaa. Itulah kecenderungan kita yang mau gampangnya saja. Mau cepat paham tapi ndak mau mikir. Yokopooo sembaaaaah mbah !”

Nafas Islami sangat kental karena Emha banyak menyisipkan ayat Al Qur an di dalam tulisan-tulisannya. Beliau juga banyak menggunakan istilah-istilsah dalam bahasa Jawa, seperti ; menek-menek, ndompleng, kabur kanginan, sekul dan uler, ndilalah, nggeremeng, nyubyo-nyubyo, dan masih banyak lagi.

Ada 43 buah esai dalam buku ini dan Cak Nun mengelompokkannya menjadi enam bagian besar yaitu Podium Husni yang mengupas persoalan kebudayaan, Sekul dan Uler membahas tentang ideologi negara dan kepemimpinan, Santri Teror, Generasi Kempong yang mengajak pembaca untuk tidak menjadi ompong, “Wong Cilik” dan Dendam Rindu Jakarta yang berbicara mengenai kaum buruh dan aku yang termarjinalisasil, dan Gunung Jangan Pula Meletus yang memaknai bencana yang kerap melanda Indonesia.

Bagi pembaca yang notabene orang Jawa, sudah dapat dipastikan mengerti arti kata yang dicetak miring itu, namun bagi pembaca yang sama sekali “buta” bahasa Jawa, pasti hanya menebak-nebak saja maksudnya. After all, tulisan Cak Nun sangat bisa dinikmati, siapa saja, kalangan mana saja bahkan mereka dengan agama yang berbeda. (Nai)

Iklan

5 Komentar

Filed under Esai

5 responses to “Si Bejo Yang Untung ; Sebuah Perenungan

  1. max

    good… repiyunya bagus, karena perspektifnya berbeda dg punya uda 🙂

    Kapan repiyu kembar lagi jah? 😉

  2. gut gut gut..besok lagi Mahasati yah da 😉

  3. mba unai…boleh juga neh reviewnya..jadi mo beli ahhhhh

  4. iya nih, aku juga pengen beli…

  5. Ping-balik: Blog ParcelBuku.Com » Blog Archive » Si Bejo Yang Untung ; Sebuah Perenungan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s