Marhalim Mencipta Rindu

amuk tun teja

Judul             :  Amuk Tun Teja : Kumpulan Cerpen

Pengarang     : Marhalim ZainiPenerbit : Pustaka Pujangga

Cetakan          : I, Juli 2007

Tebal             : xx + 120 hlm 

Mengenal sosok Marhalim Zaini lebih dekat, membuat tak henti bibir berdecak kagum. Seorang sastrawan Riau masa kini yang pernah menerbitkan Antologi Puisi Segantang Bintang, Sepasang Bulan (Pekanbaru: Yayasan Pusaka Riau, 2003) dan Langgam Negeri Puisi (Dewan Kesenian Bengkalis, 2004), Kumpulan Naskah Drama; Di Bawah Payung Tragedi (2003), Kumpulan Esai; Tubuh Teater (2004) dan dua Novel: Getah Bunga Rimba (2005) dan Hikayat Kampung Mati yang pernah dimuat bersambung di Harian Riau Pos dan diterbitkan oleh Penerbit Adicita Yogyakarta. Kali ini ia menghadirkan suasana suram dalam Kumpulan Cerpennya dengan judul Amuk Tun Teja.

Amuk Tun Teja yang diangkat penulis menjadi judul buku Kumpulan Cerpennya ini diambil dari Cerpennya pada halaman 93, yang mengisahkan seorang nenek renta yang datang tiba tiba ke sebuah perkantoran tempat tokoh Aku bekerja. Nenek renta ini menyeracau…gila rupanya.

“Air dalam bertambah dalam/ hujan di hulu belum lagi teduh/hati dendam bertambah dendam/dendam dahulu belum lagi sembuh! Sampai hati kau, Tuah! Kau renjiskan minyak wangi guna-guna itu ke ranjangku. Pengecut itu namanya!”

Begitu pantun nenek tua yang disinyalir gila ini …Akhirnya setelah perdebatan sengit antara tokoh Aku dan nenek tua, nenek Tun memilih menusukkan keris ke perutnya sendiri. Dan mati…

Penulis kelahiran Teluk Pambang, Bengkalis, Riau 31 tahun lalu ini sempat kuliah di IAIN Imam Bonjol Padang, namun tidak sampai selesai. Beliau yang pernah mengasuh tabloid Shoutul Jami’ah di kampus tersebut kemudian pindah ke Yogyakarta dan merampungkan studinya di Institut Seni Indonesia, jurusan teater.

Membaca 15 Cerita Pendek yang terangkum dalam Kumpulan cerpen ini membuat pembaca seolah dibawa ke dalam suasana yang kelam. Kekuatan Marhalim adalah menulis dengan diksi dan metafora yang puitik. Sempurna indah, meski kelam.

“Demikianlah, kau kukekalkan. Segalanya yang sempat kukenang. Dan hidup di tepian ini, tak banyak yang dapat kuberi nama pada setiap yang singgah, selain laut yang selalu menyimpan ketakterdugaan. Dan aku yakin kau di sana. Aku sering mencuri kabar dari mulut-mulit para pelaut yang singgah, bahwa kau masih di sana. Di suatu tempat yang terlampau asing untuk disebut.” (Hal 2).

Demikian tadi kutipan dari cerpennya yang berjudul “Belajar Bercinta dengan Laut” yang menceritakan tentang kesetiaan nenek tua pada Hang Jebat kekasihnya yang hilang ditelan ombak di laut. Cerpen ini pernah dimuat di Koran Tempo, Minggu 19 Juni 2005 lalu.

Tak mudah memang mengartikan paragraf demi paragraf yang terangkum dalam cerpen-cerpen Marhalim. Pembaca diajak berhenti sejenak memaknainya, hal ini dikarenakan Marhalim membungkus cerita ini dengan kalimat-kalimat puistis metaforis. Butuh ruang kontemplatif bagi pembaca untuk mengerti apa yang disiratkan. Ia sangat bersahaja dalam bertutur, dan embaca buku ini seperti sedang mendengarkan Marhalim bersenandung, menyanyikan lagu-lagu kepedihan.

Gambaran suasana muram juga dapat dibaca dalam cerpen yang berjudul “Malam Lebaran di Pelabuhan”. Dikisahkan pertemua seorang yang bernama Tok Bayan (berdarah Melayu) yang tersingkir dari puaknya dengan Markus berdarah Ambon. Nasib buruk telah mempertemukan mereka. Dan mereka bertujuan sama…pulang ke kampung halaman. Namun akhirnya Tok Bayan dan Markus tak pulang, mereka bersama pergi ke Masjid dan bermaafan pada hari raya, serta tak lupa makan ketupat di kedai kopi Lela.

Cerpen dengan judul “Pengantin Hamil” mengisahkan tentang perempuan yang hamil sebelum menikah. Sejak itu terjailah perubahan tata nilai dalam kehidupan. Hamil di luar nikah dianggap sebagai kelaziman. Bahkan kehamilan dijadikan senjata untuk mewujudkan perkawinan yang sedianya tak berestu.

Marhalim telah mengetengahkan kehidupan yang kental dengan aroma Melayu di dalam buku Kumpulan Cerpen ini. Membaca cerpen ini membangkitkan rindu, bagi pembaca yang berdarah Melayu..ya…..seperti saya ini (Nai)

 

Iklan

10 Komentar

Filed under Short Stories

10 responses to “Marhalim Mencipta Rindu

  1. max

    cerpen melayu ya… secara ius soli, da orang melayu karena lahir di Pekanbaru, he3x

  2. di antara cerpen yang bersetting metropolis, kita memang rindu dengan setting lokal, melayu 🙂

    popeye tuh sebelah mana say?
    kalo kamu bawa kolak, aku bawa apa dong? kripik belut aja ya…

  3. Melayu atau mlayu dalam bahasa Jawa berarti berlari, da? Brarti Uda harus baca buku ini deh..TOP

  4. @Isma..Iya cepen dengan setting lokal, suasana pedesaan, masyarakat melayu lebih aku pilih,tp bukan berarti gak mau baca yang metropolis

  5. Penasaran banget tauk! hehehehe coba aku sedang di tanah air, kucari buku yang baru direview bunda ini… Aku juga baru tahu tentang Marhalim Zaini. Makasih bunda,,,

  6. @ bohemian : ohhh suka dengan cerpen2 lokal nan menawan inikah? pasti tambah rindu kampung halaman, apalagi jauh di negeri orang 🙂

  7. Terima kasih, untuk atensi, apresiasi, dan responnya atas cerpen-cerpen saya dalam Amuk Tun Teja. Siap kuterima langsung respon kawan-kawan di aliem_zein@yahoo.com

  8. wahyudi29

    SEANDAINYA ADA CERPEN MARHALIM ZAINI 1000 CERPEN ,MAKA SAYA SANGGUP MEMBACANYA

  9. Ping-balik: Marhalim Zaini Mencipta Rindu | ruangkita.com

  10. Ping-balik: Blog ParcelBuku.Com » Blog Archive » Marhalim Mencipta Rindu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s