Monthly Archives: Oktober 2007

Bila Cinta Menggugat

Vita Brevis
 
Judul : Vita Brevis (Sebuah Gugatan dari Cinta)
Penulis : Jostein Gaarder
Penerjemah : VAM Kaihatu
Penerbit : Jalasutra
Tebal : 154 hlm

Sebetulnya buku ini sudah lama saya baca, tapi baru sekarang saya tampikan reviewnya. Sudah basi mungkin, karena buku ini sudah terbit sejak pertengahan 2002 lalu. Tapi tak ada salahnya saya sedikit bercerita tentang buku yang ditulis oleh Jostein Gaader berdasarkan sebuah naskah lama yang dia temukan di Argentina yang diperkirakan berasal dari abad ke 16 ini.

Jostein Gaarder (lahir 8 Agustus1952) adalah seorang penulis novel, cerita pendek dan buku anak-anak dari Norwegia. Gaarder dilahirkan di Oslo, Ia berasal dari keluarga yang berpendidikan. Sebelum memulai karir menulisnya, dia mengajar filsafat.

Jostein Gaarder, seorang pengarang yang memiliki perspektif-perspektif filsafat dan religius yang kuat. Salah satu bukunya yang terkenal “Dunia Sophie” adalah novel filsafat yang merangkum hampir seluruh dekade filsafat dari Socrates sampai Freud. Buku ini sudah diterjemahkan ke dalam limapuluhtiga bahasa; dua puluh enam juta eksemplar tercetak, dengan tiga juta eksemplar terjual di Jerman saja.

Kembali ke Vita Brevis, Buku ini adalah adalah salinan dari surat seorang perempuan kepada bernama Floria Aemelia kepada Uskup Agustinus di Hippo Aljazair. Uskup Agustinus merupakan salah satu Santo (orang suci) bagi umat Katholik yang dikagumi dan ajarannya masih dipakai oleh gereja sampai sekarang.

Baca lebih lanjut

Iklan

8 Komentar

Filed under Novel

Membangunkan Kenangan Masa Remaja

hummingbird.jpg

Judul : Burung Kolibri Merah Dadu (Kumpulan Cerpen)

Pengarang : Kurnia Effendi

Penerbit : Bentang Pustaka

Cetakan : I, Februari 2007

Tebal : xi + 260 hlm

Pernahkah terlintas dalam pikiranmu,
tentang seseorang yang h
adir di beranda?
Dialah yang menangkap setiap
perasaan bimbang dan cemasmu.
Pernahkah engkau benar-benar merasa takjub,
ketika ia mengatakan: “Burung kolibri merah dadu itu
kuterbangkan dari hatiku, hanya untuk
mu. Sungguh.”
Lalu kaucuri sepasang bintang dari tatapannya
yang amat cemerlang. Pernahkah?

Bagi saya yang selalu membaca tulisan baik endorsmen, maupun sinopsis pada sampul belakang sebelum membelinya adalah penting, dan petikan puisi di atas mampu menghipnotis saya untuk memindahkan buku yang terpajang di rak sebuah toko buku ternama di kota ini ke dalam tas punggung saya. Eits bukannya mencuri, buku Kumpulan Cerpen karya Kurnia Effendi yang akrab dipanggil KEF ini saya comot dari raknya, sayapun bergegas ke kassa, membayar, dan memilih duduk di pojokan foodcourt, sembari menunggui Alif memilih mainan bersama Babe.

Puisi di atas tadi samar samar masih saya ingat. Dulu puisi itu saya temukan pada sebuah majalah remaja “Anita Cemerlang”, saat itu saya masih es-em-pe, masih bau kecut. Dan gues what? Saya terlonjak gembira mendapatkan buku ini. Buku kumpulan cerita pendek dari seorang penulis yang karyanya kerap menghiasi halaman majalah remaja bersama penulis penulis lain : Tina K, Djamini Faisal, Sanie B. Kuncoro, Arya Gunawan, dll. Sungguh insting keremajaan saya bangkit kembali. Naluri mencintai (holoh) saya tergelitik…saya sempurna bernostalgia dalam kalimat yang tersemat dalam buku ini. Membaca buku ini seolah mengajak saya kembali ke masa remaja saya yang indah. Baca lebih lanjut

4 Komentar

Filed under Short Stories

Memahami Sejarah Perang Jawa

glonggong

Judul : Glonggong
Penulis : Junaedi Setiyono
Penyunting : Imam Muhtarom
Penerbit : PT. Serambi Ilmu Semesta
Cetakan : I, Juli 2007
Tebal : 293 hal

Membaca judul buku ini terlintas dalam benak saya suatu kegiatan yang dilakukan sebelum menyembelih sapi dengan tujuan agar berat sapi bertambah. Glonggong, mengandung arti memberi minum sebanyak-banyaknya kepada sapi yang hendak disembelih. Namun ternyata glonggong yang satu ini berbeda, glonggong berarti batang daun berarti batang daun pepaya yang kemudian dijadikan pedang yang digunakan anak-anak di suatu tempat sebagai senjata dalam permainan perang-perangan.

Novel ini adalah novel sejarah berlatar Perang Jawa yang bercerita tentang seorang pemuda yang mahir dalam memainkan pedang glonggong. Ia bernama Danukusuma. Julukan glonggong melekat pada Danukusuma sejak Ia bertarung dengan menggunakan glonggong dengan Suta. Namun ia kalah, dalam aturan mainnya adalah menjadikan wajah lawan sebagai sasaran utamanya. Pemain, kalau mukanya sudah terkena sabetan pedang glonggong harus pura-pura tersungkur mati, di manapun peristiwa kena sabet itu terjadi. Nah, Danukusuma ini kalah ketika bertarung melawan Suta. Suta berhasi menyabet muka Danukusuma dengan glonggongnya, dan sesuai aturan main, Glonggong harus menyungkur, pura-pura mati. Ketika itu Bendara Raden Mas Antawijaya yang dikenal dengan nama Kangjeng Pangeran Aria Dipanegara, menolongnya dan memanggilnya dengan panggilan “Glonggong”. Sejak itulah Danukusuma dipanggil Glonggong oleh teman-temannya. Ia juga semakin mahir mengayunkan glonggongnya dan berkat kemahirannya itu, ia disegani teman-temannya.
Baca lebih lanjut

13 Komentar

Filed under Novel