Rasa Tempo Dulu dalam Sajian Modern

The Prince Must Die
 
Judul : The Prince Must Die
Pengarang : Langit Kresna Hariadi
Penerbit : Smart Media Jl Pajajaran Timur IV Sumber Surakarta
Cetakan : I Januari 2007
Tebal : 273 hlm
BUKU dengan cover sangat tak menarik ini sedikit mencuri perhatian saya. Apa pasal? Nama penulisnya yang tercetak lumayan besar di halaman muka buku ini. Ketertarikan saya bertambah ketika membaca sinopsis pada sampul belakang. Tak urung, akhirnya masuk juga buku ini dalam keranjang belanja saya, dan habis saya lahap dalam waktu tak lebih dari 4 jam.  
Siapa yang tak Kenal LKH alias Langit Kresna Hariadi? Penulis produktif yang Lahir di Banyuwangi 48 tahun silam ini, telah menelurkan karya-karya yang laris bak kacang goreng. Kisah yang dituangkan dalam buku-bukunya kebanyakan kisah berbasis sejarah. Tak heran kalau beliau ini juga menjadi penulis naskah kejar tayang untuk drama radio.
Ada banyak novel dilahirkannya, di antaranya; Balada Gimpul, Kiamat Para Dukun, Libby, Kiamat Dukun Santet, Serong, Sekuel Gajah Mada dan masih banyak yang lainnya.  

Buku The Prince Must Die ini, menceritakan tentang temuan Nauval; seorang anak muda yang cerdas, anak dari Farhan dan seorang ibu Antini. Farhan yang memiliki dua adik perempuan; Marshanda dan Zanetti ini menemukan sebentuk cermin kuno di dalam tanah saat ia ikut membantu tukang dalam membersihkan sisa gundukan tanah untuk pembuatan septic tank baru di rumahnya. Cermin inilah yang kemudian menjadi ‘pintu ajaib’ menuju suatu tempat di masa lalu, masa pemerintahan Ken Arok di Singosari.
Selain cermin purba berbingkai itu Nauval juga menemukan kotak perunggu. Penemuan luar biasa yang dilengkapi mimpi aneh itu akhirnya Ia ceritakan kepada sahabat dekatnya bernama Lenggang. 
 
“Aku yakin ada sesuatu di dalam kotak perunggu itu. Jika benar di dalamnya ada sebuah benda, maka aku sungguh harus merasa kagum bagaimana orang zaman dulu bisa membuat wadahnya. Kotak perungu itu begitu halus seolah buatan pabrik.”
Akhirnya dengan segenap keberanian, Nauval dengan mengajak sahabatnya membuka kota perunggu itu. Apa yang kemudian terjadi? Nauval menemukan kamera digitalnya di dalam kotak perunggu itu, padahal kameranya telah dianggap hilang. Bagaiman bisa? Mereka mengecek apakah kameranya masih dapat dipakai atau tidak dengan mengambil gambar benda apapun di dalam kamar Nauval. Namun yang terjadi kemudian adalah mereka masuk ke dalam dunia lain yang asing, persis sesaat setelah Nauval membidikan kameranya pada cermin purba itu. Singkatnya, timbul rasa penasaran Nauval, Lenggang, Marshanda, dan Emilia untuk masuk ke dunia itu, sebuah kerajaan Singosari dengan rajanya Ken Arok. 
 
Ceritera tentang Ken Arok ini sering sekali diceritakan Bapak kepada saya ketika saya kecil. Masih lekat dalam ingatan saya sosok Ken Dedes yang kecantikannya luar biasa, dengan betis yang dapat mengeluarkan cahaya. Ken Arok memiliki istri lain selain Ken Dedes, namanya Ken Umang.  
Dulu, Ken Arok menikahi Ken Dedes ketika Singasari masih berbentuk sebuah pakuwon yang bernama Tumapel. Ken Dedes telah memiliki anak dari perkawinannya dengan Tunggul Ametung yang dibunuh oleh Ken Arok Anaknya itu bernama Anusapati. Ken Arok telah berjanji akan menganggap Anusapati sebagai anaknya sendiri, dan akan menempatkan Anusapati sebagai Pangeran Pati, artinya bila nanti Ken Arok turun tahta, Anusapati yang akan menggantikannya.  
Namun, Ken Umang juga memiliki anak laki laki yang berasal dari benih Ken Arok. Ken Arok berketakutan kalau nanti suatu saat Anusapati tahu kalau yang membunuh ayahnya adalah dirinya. Ken Dedes sebetulnya mengetahui siapa sesungguhnya pembunuh Tunggul Ametung. Namun Ken Arok mengkambinghitamkan Kebo Ijo, kemudian membunuhnya. 
Cerita ini mirip cerita ditektif; mencoba memecahkan teka teki, misteri kaca purba dan dunia di balik kaca, sarat dengan peristiwa sejarah. Namun sayang kalitas sastra yang disajikan tidak terlalu menggugah, begitu pas pasan. Alur ceritapun berlompatan. Mungkin karena telalu produktifnya penulis, dan mungkin karena begitu derasnya karya-karyanya hadir kepermukaan menyebabkan buku ini kehilangan ’rasa’. Sayang sekali..Sangat tidak sebanding dengan muatan sejarah yang berlimpah di dalamnya. Kalau saja penulis memperhatikan kualitas sastra yang baik, saya yakin tidak akan sulit untuk menyita perhatian masyarakat luas, karena buku ini sangat membantu menciptakan visualisasi imajiner tentang keadaan pada zaman itu. (Nai)
Iklan

6 Komentar

Filed under Novel

6 responses to “Rasa Tempo Dulu dalam Sajian Modern

  1. max

    273 halaman ditamatin dalam 4 jam? walah…, ngebut banget..

  2. Sedang gak ada kerjaan da..makanya ngebut 🙂

  3. Senang saya dapat kritik di ruang ini, nggak bermaksud membela diri ya mbak, akan tetapi buku itu saya tulis dalam koridor teenlit. Itu sebabnya saya tulis ringan saja, nggak usah ngoyo dan cukuplah kalau disebut …….pas pasan.

  4. Aku juga baca ini ngebut. Karena minjemnya baca di tempat. Aku lebih suka baca Libby….

  5. Ping-balik: Blog ParcelBuku.Com » Blog Archive » Rasa Tempo Dulu dalam Sajian Modern

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s