Puisi Lugas, Sebuah Ciri

Renungan kloset 

Judul : Renungan Kloset (Dari Cengkeh sampai Utrech)
Pengarang : Rieke Diah Pitaloka
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : III, Desember 2004
Tebal : 120 hlm ; 14 x 21 cm
 
Ada Baiknya,
kita mencatat hidup dalam lembar-lembar buku harian
Suatu masa,
Jika membacanya lagi
manis, membuat kita ingin kembali
pahit, membuat duka tak bisa lupa
Ada baiknya,
merenung hidup
Dalam kloset yang sepi
Tak perlu malu
Mengenang, tersenyum atau menangis
Setelah itu,
Siram semua
Bersiap menerima makanan baru
Yang lebih baik dari kemarin

 
Yogya, 01102001
 
Renungan Kloset, demikian judul puisi di atas yang saya ambil dari hal 47 dalam sebuah buku antologi puisi karya perempuan enerjik kelahiran Garut 33 tahun silam. Keke, demikian dia akrab disapa. Lulus dari Fakultas Sastra Belada UI kemudian setelah lulus ia melanjutkan studi dengan konsentrasi Ilmu Filsafat pada Program Pascasarjana di universitas yang sama. Pemeran Oneng dalam sinetron Bajaj Bajuri dan bintang iklan bersama Mbah Marijan ini terlibat dalam gerakan pro demokrasi di Indonesia, dan beberapa puisinya merupakan laporan pandangan mata dari sekian banyak demonstrasi yang diikutinya.


Membaca puisi-puisi ini seakan melihat sebuah kelugasan seorang wanita. Tegas dan terus terang. Puisi-puisi yang ditulis Keke yang terangkum dalam Antologi Puisi Renungan Kloset antara tahun 1998 hingga 2003 ini benar-benar menggambarkan apa yang ada di dalam pikiran penulis. Sebuah ‘rasa’ pemberontakan begitu tajam terasah. Di sinilah kemudian Keke menyampaikan ekspresi kaum perempuan, wujud protes dari ketidakadilan pemerintah.
 
Puisi adalah pengucapan bahasa penyair yang merupakan wujud pengalaman, pikiran dan perasaan penulisnya. Perasaan ini menyatu erat menjadi sebuah obsesi. Bahasa sajak setiap penulis tentu membawa ciri tersendiri, dan uniknya Keke, dia tak seperti penyair lain yang menulis dengan pemilihan diksi yang sangat hati-hati, menggunakan metafor untuk mempercantik gemulai tariannya. Namun tidak dengan Keke, puisinya mengalir bagai air. Seperti melihatnya berceloteh saja. Ceplas-ceplos dan kesan ‘nyablak’ kental terasa. Sebuah cerminan pribadi yang apa adanya. Tak ada basa basi, namun penuh riak gelombang, juga gejolak yang menghentak, sebuah wujud hati yang  bebas.
 
Sebagai bagian dari masyarakat yang peduli kaum yang termarjinalkan, Keke mengabadikan berbagai peristiwa sosial politik dalam puisi-puisinya ini, seperti peristiwa Semanggi yang ditulis dalam puisi yang berjudul “Suatu Senja Tanpa Lampu-Lampu Semanggi (Kita Anak Negeri)” hal 8;

Satukanlah dirimu semua
Sluruh rakyat senasib serasa
Susah senang dirasa sama
Bangun-bangun segera
Panji-panjipun berdiri angkuh menantang langit
Dalam genggaman jemari berkeringat
Kibarannya terasa bergelora
.”
Dst…
 
Puisi dengan nada marah (walaupun hampir keseluruhan karyanya bernada marah) dapat kita lihat dalam puisinya yang berjudul “Tandatangani Saja” hal 46;

Cukup sampai di sini
Tandatangani saja surat cerai ini
Tak usah kau umbar lagi muslihat-muslihat itu
Kemarin,
Tiga lusin kecoa datang ke sini
Mengaku sebagai anak-anak
Yang kau cipta dari spermasperma
Yang kau semburkan
Di spreisprei lusuh
Di lusuh
Di dinding losmen-losmen keruh
Selamat jalan!

 
Begitu apa adanya…kata-kata sederhana tapi menyentuh.
Nada ceplas-ceplos yang mendominasi hampir setipa puisinya ini tak lantas membuat Keke tak romantis, simak saja puisi pada halaman 87 dengan judul “Mengapa Aku Sayang Padamu?” berikut petikannya ;

Karena… Sayangmu tak lebih dari seberkas cahaya yang menemani malam
Tak ada rangkaian kata yang mempesona
Kata-kataku tenggelam dalam dekapmu,
Kata-katamu karam dalam rengkuhanku,
Detakhatimu gemuruh dadaku
Meletup namun tak menggores, beriak namun tak jadi gelombang,
Berayun lembut,
Mengatupkan mataku matamu dalam indah yang tak menjulang

Tak perlu menghabisakan banyak waktu untuk melahap semua puisi dalam buku antologi puisi ini. Cocok dibaca sebagai teman minum teh sore hari. (Nai)

Iklan

7 Komentar

Filed under Poems

7 responses to “Puisi Lugas, Sebuah Ciri

  1. Ken

    Hmmmmmmmm salah satu penulis perempuan yang smart..
    Gimana ama Dee n Dorothea Jeng? Udah blon siy bikin rifiunyah??

  2. max

    kapan Nai terbitin kumpulan puisinya? Kalau judulnya ada ide dikasih judul “Ratap Mercucuar” 🙂 kan bagus tuh

  3. Seperti melihatnya berceloteh saja. Ceplas-ceplos dan kesan ‘nyablak’ kental terasa. Sebuah cerminan pribadi yang apa adanya…

    Trus napa ya, tetap saja terasa punya ruh puisi yang kuat?

    OOT: Ta’ masukin sebagai sahabat blogger yah. Tks.

  4. Wah, puisinya bagus yach. Pengen beli ah bukunya.
    Belum sempat baca yang ini.

  5. iks

    menarik yaah…

    kmarin sudah ingin beli tapi belum cari rekomen, kbetulan baca review ini jadi tambah pengen baca 🙂

  6. Ping-balik: Blog ParcelBuku.Com » Blog Archive » Puisi Lugas, Sebuah Ciri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s