Bukan Kesetiaan Semata

979-461-065-8.jpg
Judul : San Pek Eng Tay : Romantika Emansipasi Seorang Perempuan
Penulis : Oey Kim Tiang (OKT)
Penerbit : Yayasan Obor Indonesia
Cetakan : VI, Maret 2004
Tebal : 302 hlm


San Pek Eng Tay sering disebut Sam (Sic) Pek Eng Tay , merupakan salah satu karya sastra Cina yang populer di tanah air kita. Ada 10 judul buku serupa yang telah diterbitkan. Kisah San Pek dan Eng tay ini pernah pula difilmkan juga dipentaskan dalam sekian banyak pertunjukan.
Kepopulerannya tidak terbatas pada mereka ; kalangan etnis Cina saja, namun juga sampai kepada kalangan peribumi. Ini dapat dilihat dari wujud kisah ini dalam bentuk ludruk , lenong, dan pagelaran drama. Salah satu versi terpopuler adalah drama yang dipentaskan oleh Teater Koma, buah karya N. Riantiarno. Tak tanggung-tanggung pertunjukan drama ini berlangsung selama 18 hari dalam bulan Agustus-September 1988 lalu.

Fiksi Cina yang diceritakan kembali oleh Oey Kim Tiang (OKT) dan diredaksi oleh Achmad Setiawan Abadi (ASA) ini tidak sekedar megisahkan tragedi percintaan anak manusia seperti Romeo dan Juliet, atau Romi dan Juli dalam cerita Indonesia, dan Layosari dan Jayaprana, namun justru lebih mengisahkan romantika emansipasi seorang perempuan yang dengan gigih memperjuangkan hak-hak dan kewajibannya.

San Pek Eng Tay adalah cerita rakyat dari Tiongkok yang mengisahkan suatu episode kehidupan gadis bernama Ciok Eng Tay dan juga pemuda yang bernama Nio San Pek. Mereka hidup di abad ke-4 Masehi.

Dalam persoalan laki-laki dan perempuan, Konfisianisme menempatkan derajat lelaki lebih tinggi dari perempuan. Bahkan di kalangan yang terpelajar-dalam hirarki struktur masyarakat Cina yang feodal, kaum terpelajar (Shih), yang meliputi kaum bangsawan dan kaum birokrat, berada pada urutan palng atas, kemudian diikuti oleh kaum tani (Nung), disusul kaum buruh (Kung) dan yang paling rendah adalah kaum saudagar (Shang). Kaum perempuan didiskriminsaikan. Bahkan konon di antara beribu ribu murid Khong Hu Cu, tak seorangpun wanita.

Atas dasar ingin memperjuangan haknya agar menjadi perempuan yang berpendidikan/berpengetahuan, maka dengan nekat Eng Tay melakukan penyamaran menjadi laki laki. Di tengah perjalanan menuju tempat sekolahnya, Bertemulah San Pek dengan Eng Tay. Ternyata mereka memiliki tujuan yang sama. Mereka memutuskan untuk tinggal se asrama.

San Pek menyayangi Eng Tay sebagai adik angkatnya, pada mulanya, dan penyamaran Eng Tay belum terendus. Eng Tay tetap dikenal sebagai laki laki oleh San Pek. Ketika mengetahui bahwa Eng Tay sebenarnya adalah seorang perempuan, San Pek lantas membalas cinta Eng Tay.

Tapi perjalanan cinta diantara keduanya tak semulus persaudaraan mereka. Eng Tay telah dijodohkan dengan Ma Bun Cay, putra seorang kaya raya. San Pek patah hati dan sakit dibuatnya, kemudian meninggal dunia. Eng Tay terpukul dengan kematian kekasihnya. Dia berkeras untuk tetap menolak perkawinan itu.

Tibalah hari yang ditentukan. Dalam perjalanan menuju rumah calon mempelai laki lakinya (Ma Bun Cay), Eng Tay menziarahi kuburan San Pek. Karena tangisannya yang yang menyiratkan kesedihan dan mendalam, juga karena kesetiaan Eng Tay, maka merekahlah tanah kubur San Pek. Dengan sigap, Eng tay melompat masuk ke dalam liang kubur menyusul kekasihnya. Indahnya…di atas kuburan mereka kerap berterbangan sepasang kupu-kupu.

Saya gak bisa bilang apa-apa, kecuali…rugi banget kalo gak baca buku ini. (Nai)

Iklan

16 Komentar

Filed under Novel

16 responses to “Bukan Kesetiaan Semata

  1. woman rules..

    eh, aku petromax ya?

  2. max

    weewww.. romantis banget, plus nekad banget pake acara melompat ke kuburan segala πŸ™‚

  3. @Toga: hahaha bisa pinjam pertomaxnya Lae πŸ˜›

    @Uda: ini buku bagus da…endingnya menyentuh, dan sejarahnya dapet. ini fiksi yang faktual πŸ™‚

  4. dari dulu hingga sekarang beginilah cinta didunia, suka dan dukanya tiada akhir. merenda merajut merentas helai demi helai benang-benang cinta agar menjadi pakaian tubuh dan jiwa. ah……………. air mata dan tawaku mengalir…………….

  5. di dua blog-mu, kok aku menemukan (hal yang berhubungan dengan) pisang ya?

    Bukannya aku merekomendasikan timun?

    *melarikan diri*

  6. tapi fiksinya klise.. tentang kisah anak manusia yang tak dapat menyatu…
    tapi bagus kok..

  7. hiks…hiks…jadi inget kisah jadulku nai. jangan tanya ya…ada sipit2nya hueee…

    unai emang jago review.

  8. @Andi: hm indah juga katakatanya πŸ™‚

    @Toga: hahaha timun bikin tensi darah turun Lae…enakan juga pisang

    @Mayasari: bukan hanya tentang percintaannya may, tapi semangatnya untuk menuntut ilmu itu bagus sekali

    @NiMeiy: ayooo dong Ni, cerita, ada apa dengan si masa lalu itu huhuy

  9. aku slalu ngiri padamu mbak..yg masih setia nulis review…

  10. Kisah klasik yan menarik sampai kini … eh … asyik kan di WP, ulun bisa komen he he

  11. Ping-balik: Gunawan Rudy dot Com » Romantika Lodaya

  12. nice story ya … pernah liat filmnya yg versi cina tp lom pernah baca bukunya πŸ˜€

  13. Inggawati

    ini termasuk salah satu film favorite ku
    sampe beli Cd nya, sayangnya gak ada text Indonesianya
    hehehehehe
    pingin jg baca bukunya

  14. keren, aku ikut dramanya loo

  15. Ping-balik: Blog ParcelBuku.Com » Blog Archive » Bukan Kesetiaan Semata

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s