EWA, Mengubah Rasa Takut Menjadi Semangat

 Menulis-2dmari-2dmenulis

 

Judul Buku: Menulis Mari Menulis
Pengarang: Ersis Warmansyah Abbas
Penerbit: Mata Khatulistiwa
Cetakan: I, Desember 2007
Ukuran: 12 x 18 cm, x + 170 halaman
Keterangan: Diterima dari EWA pada 25 Januari 2008

Bila Bapak mampu menyelesaikan penulisan buku ini hanya dalam waktu 7 hari saja, maka saya membacanya dengan sangat bersemangat, tak lebih dari 6 jam

Sambil menekan tombol send, dan menutup lembaran terakhir buku berjudul ‘Menulis Mari Menulis’ saya tersenyum, puas sekali. Berharap penulis buku ini menjawab pesan singkat yang saya kirim. Rupanya tak harus menunggu lama, sms saya berbalas. Dengan bahasa yang hampir sama seperti yang saya baca di beberapa bukunya, renyah. Kesan yang saya tangkap dari sosok penulis yang hanya saya kenal di dunia maya ini adalah ; seseorang yang sangat hangat dan bersahabat.

Siapa yang tak kenal dengan Ersis Warmansyah Abbas. Namanya berkibar di dunia tulis menulis. Dosen FKIP Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin ini dilahirkan di Muaralabuh Solok Selatan.

EWA, demikian beliau akrab disapa. Tulisan-tulisan ringan tidak sekedar memotivasi akan kita temui di dalam buku yang terbilang tidak terlalu tebal ini. Dengan cover hijau muda ini sangat menarik perhatian.

Membaca buku ini, yakini seyakinnya, pengendala akan hilang ke ruang tak bertepi. Hambatan, ganjalan, rasa takut, minder, menyalahkan diri, atau apapun namanya, tidak akan berbekas lagi. Akan diraih penyadaran, menulis sangat mudah, mudah dan memudahkan. Menulis tak lebih bak ‘bersenda gurau’ belaka. Begitu entengnya, begitu mudahnya. Sampeyan telah memilih buku yang tepat untuk dibaca. Selamat

Demikian testimoni yang tertulis di sampul belakang buku ringan namun dipastikan berkemampuan mengubah nyali pembaca ; dari tak yakin akan kemampuan diri menjadi sangat bersemangat. Di dalam buku ini, EWA seolah mengajak pembaca untuk menulis tanpa takut salah.

Kita tak perlu belajar tata bahasa, mengeja kosakata  mempelajari gramatika, sosiolinguistik, sampai hermeneutika. Sederhana saja, apabila ingin mengasah kemampuan  menulis adalah dengan menulis” hlm 4.

Bila kita beranggapan bahwa di dalam buku ini kita akan mendapatkan banyak hal tentang teori menulis, itu salah besar. Buku ini tidak menyajikan teori, namun lebih dari itu sebuah semangat dan kekuatan telah dipompakan EWA kepada pembacanya.

Apabila teori menghambat , membelenggu, atau menjadikan kita mandeg menulis, buat apa teori? Buang saja, itu belenggu” hlm 28.

Ini yang membuat  saya yang semula menulis tanpa rasa percaya diri karena tidak memiliki bekal teori menulis yang memadai, kini  memercayakan otak dan membiarkan jemari menari lincah di tuts keyboard. Saya tak lagi sibuk menekan tombol backspace ketika kata kata menjadi kalimat.

Berkeinginan menulis adalah modal untuk bisa menulis. Lihat !!! Hanya dengan keinginan menulis saja kita bisa menjadi penulis. Tak perlu sekolah tinggi untuk bisa menjadi penulis, menulis itu mudah, jadikan menulis sebagai sebuah kebiasaan. Begitu berkali-kali EWA menekankan.

EWA juga mengajak kita menyingkirkan perasaan takut yang menurut  sangat tidak kontributif dalam kegiatan menulis. Ketakutan hanya akan membelenggu. 

Pada bab terakhir buku ini, EWA mengajak pembaca berkelana dalam puisi-puisi yang lahir sebagai anak nuraninya. Ada lima pucuk puisi yang ditampilkan disini, diantaranya adalah Surat Buat Kekasih yang diterbitkan oleh Gama Media Yogyakarta. Puisi-puisi EWA begitu gamblang, mengalir seperti air, meski tanpa liuk-liuk diksi yang mampu menerbangkan imajinasi pembaca. Namun…puisi EWA adalah ciri; tidak dapat diragukan lagi, EWA adalah penulis yang puitis sekaligus pemberi semangat. Akan tercatat dalam sejarah sejajar dengan penulis senior kenamaan lainnya.

Bagaimana  menurut sampeyan? (Nai)

Iklan

24 Komentar

Filed under Self Help

24 responses to “EWA, Mengubah Rasa Takut Menjadi Semangat

  1. Ha ha aku jadi ‘malu’ membacanya. Inti pesan buku setebal hampir 200 halaman sampeyan press dalam kalimat cerdas begini, seperti saya punya pejabat humas saja he he (becanda kog mBak).

    Makasih ya. Hanya itu yang dapat saya hadiahkan buat Sampeyan. Sekali lagi, trims berat.

  2. max

    Sebagai motivator, Pak EWA emang sukses dengan memprovokasi orang untuk berani menulis 🙂

  3. @Pak EWA: saya yang berterimakasih mendapat buku ini, trims pak

    @Damax: berani menulis tanpa kenal si takut…

  4. Sq

    yap..bukunya mank nggak banyak beda dengan buku pertama, Menulis Sangat Mudah.
    khas EWA dengan bahasa-bahasa se”maunya”, kocak, asyik, mudah dipahami dan sangat akrab.

    Ini baru seri ke 2 ya? kayaknya bakalan bermunculan lagi seri lanjutannya. Buat Nai di Yogya, salam kenal ya dari Banjarmasin.

  5. didijunaedihz

    Kemarin, 11 feb’08 pkl. 14:15 WIB, ketika saya
    sedang rehat, karena baru pulang ngantor, tiba tiba hp saya berdering, setelah dibuka, ternyata ada pesan singkat dari Bang EWA, yang meminta saya untuk mengomentari resensi bukunya berjudul “Menulis Mari Menulis”.

    Jujur, meskipun saya belum sempat membaca buku tersebut, tetapi saya yakin seyakin yakinnya, kalau buku yang belum lama dirilis itu berisi gagasan cerdas, renyah, segar dan tentunya menyamankan, bagi siapa saja yang ingin terjun ke dunia merangkai kata.

    Kenapa saya bisa yakin segitu yakinnya? Ya, hal itu karena saya telah membaca bukunya “Menulis Sangat Mudah”, yang beliau kirim ke saya beberapa waktu lalu.

    EWA adalah seorang makhluk Tuhan paling ‘seksi’ dalam memberikan motivasi untuk menulis kepada siapa saja. Seakan pelurunya ngga pernah habis ketika memotivasi siapapun untuk terus dan terus menulis. Bravo EWA, ditunggu kiriman bukunya ( “Menulis Mari Menulis” )…

  6. @Didi : Hai Didi..terima aksih sudah mampir kemari…Betul sekali, Pak Ewa menyampaikan bahwa menulis mudah itu dengan sangat seksi, heheh

  7. Nggak perlu waktu terlalu lama untuk menamatkan buku Menulis Mari Menulis jebolannya EWA.

    Tapi, “berasa” lama banget efeknya. Dan dengan rasa “sensosional” yang nggak terlalu banyak berbeda dengan buku pertamanya.

    Buku yang amat baik untuk siapa saja yang masih ragu dan takut untuk mulai menulis. Juga tepat untuk orang yang ingin “menjadi” dalam menulis. Dan tetap pas untuk siapapun yang mencintai menulis….

  8. Teman-teman semua … bukunya kan dah ada juga di blog …dah ditayangkan kog seblum dicetak

  9. ogah komentar… aku belum dikirimi bukunya. padahal, ongkos kirim bjm-jogja dan bjm-jkt kan lebih kurang aja ya… hehehe…

  10. Assalamu’alaikum.
    Ya, saya setuju banget. Memang kita harus mendobrak GEMBOK ketidakbisaan menulis. ya dengan menulis ala EWT, saya sudah merasakan sekitar 6 bulan terakhir, kira-kira.
    Sukses buat EWA dan peresensi Unai.

  11. Buku Enam Puluh Dua

    Februari 10, 2008 oleh Max

    Menulis-mari-menulisJudul Buku: Menulis Mari Menulis
    Pengarang: Ersis Warmansyah Abbas
    Penerbit: Mata Khatulistiwa
    Cetakan: I, Desember 2007
    Ukuran: 12 x 18 cm, x + 170 halaman
    Keterangan: Diterima dari EWA pada 25 Januari 2008

    Betapa Mudahnya EWA Menulis

    “MEMBACA buku ini, yakini seyakinnya, pengendala akan hilang ke ruang tak bertepi. Hambatan, ganjalan, rasa takut, minder, menyalahkan diri, atau apapun namanya, tidak akan berbekas lagi. Akan diraih penyadaran, menulis sangat mudah, mudah dan memudahkan. Menulis tak lebih bak ‘bersenda gurau’ belaka. Begitu entengnya, begitu mudahnya. Sampeyan telah memilih buku yang tepat untuk dibaca. Selamat“

    Buku ini benar-benar memotivasi luar dalam. Belum lagi helai demi helai halaman dibuka dan dibaca, pembaca sudah lebih dahulu dimotivasi di cover depan dan belakang buku terbitan Mata Khatulistiwa ini. “Menulis Mari Menulis” sebagai judul buku, jelas sebuah ajakan atau propaganda positif yang dilancarkan Ersis Warmansyah Abbas (EWA). Untuk meyakinkan calon pembacanya bahwa menulis sangatlah mudah dan memprovokasi agar mereka mau menulis, kalimat yang tertera di atas dijadikan sebagai testimoni di cover belakang buku agar calon pembaca semakin tertarik untuk membaca dan kemudian tidak lagi ragu untuk menulis.

    Menulis, bagi sebagian orang memang suatu hal yang memberatkan. Kalau tidak perlu-perlu benar dan bukan sebuah keharusan, pastilah mereka lebih memilih menghindar dari aktivitas ini. Banyak alasan yang akan diutarakan kenapa mereka enggan menulis. Malas, tak pandai, tak punya waktu, lagi buntu, tak tahu apa yang akan ditulis dan seabreg jawab lainnya dijadikan pelepas tanya. Padahal kalau saja mereka tahu betapa bermanfaatnya aktivitas menulis, pastilah takkan ada keengganan dan segala halangan yang akan dijadikan alasan untuk tidak melakukannya.

    “Menulislah, bila engkau tak ingin hilang dari pusaran dunia.” Begitu kata Pramoedya Ananta Toer. Atau “Scripta Manent Verba Volan (yang tertulis akan mengabadi, yang terucap akan berlalu bersama angin)”, sebuah ujaran yang melegitimasi betapa perlunya menulis. Kebimbangan apalagi yang harus disemayamkan dalam diri untuk melakukan ini?

    Merasa tak percaya diri, takut dicaci maki, salah teori, atau merasa otak tak berisi untuk mengejawantahkan buah pikir dalam bentuk tulisan, bagi EWA itu hanya alasan yang dicari-cari. Karena jauh-jauh hari, ketika SD, kita sudah diajari untuk menulis, mengenal 26 huruf (a sampai z) dan 10 angka (0 sampai 9), tinggal lagi kemauan, keberanian, keyakinan, untuk merangkainya menjadi kata, melahirkannya menjadi makna.

    Abaikan dulu teori, begitu prinsip EWA untuk memotivasi pembaca agar mau menulis, menulis dan menulis. Dan untuk belajar menulis, memang harus terus menulis. Dan syukurnya dia tidak lupa untuk memberi ingat bahwa untuk menulis harus dikembangkan budaya membaca.

    “Resep saya, dalam kondisi apa pun, membaca dan menulis adalah hal yang tidak mungkin ditinggalkan.” (hal.22) Karena menurut rang Minang kelahiran Muaro Labuah, Kabupaten Solok Selatan yang kini menetap di Kalimantan Selatan itu, membaca berarti memahami dan menulis ulang dengan bahasa sendiri.

    Dalam buku yang terdiri dari 6 bab ini, motivator penulisan yang juga dosen di FKIP Unlam itu dengan gamblang memberi motivasi. Tidak mencle-mencle dan tidak pula perlu banyak teori. Jangan pernah mengira dan jangan berharap kalau di buku setebal 170 halaman ini akan ada segudang teori, kaidah, etika menulis dan kepenulisan yang biasanya dimuat dalam buku-buku sejenis. Takkan ada pelajaran bagaimana mengeja, menuliskan ejaan, apalagi tentang ejaan yang disempurnakan. Menulis saja…. dan mari menulis, menuliskan apa yang ingin ditulis. Habis!

    EWA tak sekedar memotivasi dan memberikan gambaran kepada pembaca tentang betapa mudahnya menulis. Dia sendiri menunjukkan kepada kita bahwa saking mudahnya menulis, dirinya bisa merampungkan buku ini hanya dalam satu minggu. Walah! Sebelumnya EWA juga telah memberi motivasi serupa dalam buku “Menulis Sangat Mudah” yang mendapat apresiasi tinggi dari pembaca yang dibuktikan cetak ulang sebulan setelah diterbitkan pada tahun 2007 lalu.

    Karena something different yang ditawarkan EWA inilah yang membuat pembaca yang juga calon penulis (atau pernah menulis) menjadi menggebu-gebu melepas belenggu yang bikin mereka buntu untuk menulis. Di samping memotivasi, EWA juga memberi lihat kepada pembaca karya-karya yang telah ditulisnya dan dimuat di media massa serta dibukukan pula. Ada sejumlah Cerpen dan puisi yang dijadikan sebagai bukti dan pemotivasi. Terserah orang mau memuji atau akan mencaci maki, EWA pastilah takkan peduli.

    Nah, alasan apalagi yang akan kita cari untuk tidak menulis. Soal tulisan kita akan dicaci maki, anggap sebagai motivasi, kalau dipuji pun tetap anggap sebagai motivasi. Yang penting harus percaya diri, mengapa EWA bisa, kita tidak?

    Bagaimana menurut Sampeyan?* (max)

    nb:
    * merupakan kalimat penutup yang selalu dipakai EWA dalam setiap tulisannya.

    Ditulis dalam pengetahuan | 7 Komentar
    7 Tanggapan ke “Buku Enam Puluh Dua”

    1.
    di/pada Februari 10, 2008 pada 10:40 pm1 Ersis W. Abbas

    Wuaw … bahasa sajian Sampeyan jauh lebih hebat dan bermakna dari penulis bukunya, he he. Tarimo kasih Max … salam untuak kaluargo jo kawan-kawan di Ramah Minang. http://www.ewbersis.com dan http://www.menulismudah.com

    2.
    di/pada Februari 11, 2008 pada 9:33 am2 unai

    mantap kali da…setuju pak EWA, bahasa sajiannya membuat buku ini menjadi sangat ruar biasa 🙂

    3.
    di/pada Februari 11, 2008 pada 3:49 pm3 syaharuddin

    saya memang belum membaca buku menulis mari menulis, tapi saya yakin bahwa isinya jelas adalah sebuah ajakan untuk menulis. saya sendiri dulu sangat takut menulis, karena erbagai alasan. Karena takut salahlah, karena tidak sesuai dengan teori menulislah, dan ketakutan lainnya. Setelah membaca buku terdahulu EWA “menulis sangat mudah”, saya pun termotivasi. Yang jelas kedua buku ini sarat dengan muatan motivasi untuk menulis. Untuk itu, kedua buku itu menjadi buku referensi utama bagi mereka yang selama ini takut menulis. Ayo menulis…..mumpung masih diberi Tuhan anugerah yang tak terhingga……

    4.
    di/pada Februari 11, 2008 pada 6:47 pm4 SQ

    wow..bener-bener blognya boekoe nih..h3w. Menulis mari menulis, yo sama-sama menulis.

    Setelah sempat baca bukunya, yang satu ini bukan hanya ngasih motivasi dan tips-tips menulis artikel. Tapi juga cerpen dan puisi, saya setuju, dengan bahasa akrab yang asyik, sangat memotivasi berani menulis, Jauuuuuuh dari teori.

    Buat bung Maryulis Ya? salam kenal dari Banjarmasin

    5.
    di/pada Februari 12, 2008 pada 11:29 am5 didijunaedihz

    Saya hanya ingin mengatakan bahwa menulis membuat kita tak lekang ditelan waktu dan tak punah dimakan zaman..menulis, mari menulis…

    6.
    di/pada Februari 12, 2008 pada 5:17 pm6 Suci

    Keliatannya gila baca nih, mas…he

    Buku EWA speperti biasa…”sensasional”

    Nyeleneh

    Pokoknya aneh-aneh aja

    Tapi, teteeep…..cabuk motivasi yang cukup efektif untuk terus menulis….

    7.
    di/pada Februari 13, 2008 pada 7:55 am7 taufik

    Sebuah pilihan yang sulit barangkali, untuk tetap menjaga keresahan, bersepi-sepi berhadapan dengan bertumpuk buku yang berserakan. Berada di depan komputer berjam-jam, menyusun huruf demi huruf menjadi kata, kata menjadi kalimat, dan seterusnya. Sementara sebagian lain dari generasi kita menikmati hidup nyantai, nonton televisi, jalan-jalan ke mall, cafe, game, kongko-kongko, ber-haha hehe berbicara tentang sesuatu yang entah…
    Sebelum melakukan aktivitas apapun, terlebih menulis, yang terpenting adalah motivasi atau keberangkatan awal (dan ini yang coba dibangun oleh Bung Ersis dalam tulisan-tulisannya). Tanpa itu, maka sulit untuk sampai pada apa yang dituju. Dalam konteks menulis, temukan alasan yang paling emosional mengapa Anda menulis? Ibadah, menegakkan periuk, memperoleh nilai, tanggung jawab moral, atau apa? Selesaikan dulu masalah ini, baru Anda bisa beranjak ke aktivitas teknis.
    Untuk yang bersifat teknis ini, kita sangat diuntungkan dengan perkembangan teknologi. Komputer membuat kerja kita jadi sangat efisien. Tak hanya itu, di era teknologi informasi sekarang ini, tersedia pula fasilitas internet. Dalam hitungan detik, kita bisa mendapatkan berbagai informasi penting yang dibutuhkan.
    Menyadari itu semua, saya malu membaca karya-karya Tan Malaka, misalnya, yang banyak lahir dari gubuk reot, pensil dan kertas buram seadanya. Harus terus berpindah, sampai ikut merasakan dinginnya lantai penjara.
    Terkini, ada Kuntowijoyo (alm), saat terserang penyakit meningo encephalitis yang berakibat terganggunya saraf motorik dan memori otak, semangat menulisnya tak pernah padam.
    Atau Harun Yahya, penakluk teori evolusi. Yang harus berhadapan dengan penjara, siksa, fitnah, cibiran bahkan ancaman pembunuhan. Namun tetap menulis dan menghasilkan karya. Menulis adalah mendedahkan kesaksian spiritual, menjadi saksi sekaligus bukti atas kebesaran dan keagungan Allah.
    Sementara, kita dalam kondisi aman tentram, sumber daya fisik sempurna, tak ada ancaman fisik dan psikologis, namun tetap saja rabun membaca, lumpuh menulis. Tanya kenapa???
    Tak ada yang salah memang, tapi rasa-rasanya jadi tidak imbang. Jika segenap waktu harus dipenuhi dengan aktivitas-aktivitas “kemesraan emosional”. Acuh tak acuh terhadap “tantangan-tantangan” intelektual.
    Buku karya Bung Ersis ini, ingin sekalii membantu Anda, kita semua, menjawab sapa: “Selamat Datang Penulis Muda”. Tulisan yang mampu memberdayakan Anda. Setiap kalimat yang tersusun membiak menjadi sebuah dialog yang akrab, hangat, dan membahagiakan. Ia merupakan gabungan antara teks yang dibaca, dan pengalaman penulisnya. Buah dari mengakrabi kehidupan.
    Maka dari itu, mari teriakkan: Hai anak muda! Tunggu apa lagi, kesempatan telah digelar di depan mata, pasar telah berpihak padamu. Dirimu adalah sumber inspirasi. Layaknya samudera, tak akan mengering hanya karena airnya sering engkau ambil.

    Wassalam

  12. max

    taufik = Oalah. Pak Taufik malah promosiin postingan saya di sini. :)) Tq ya hi3x.

    Unai = Sori Nai, kolom komen jadi semarak oleh copian Pak Taufik 🙂

  13. Damax: iya..komennya puanjang banget dah, ternyata dari blog tetangga hehe

  14. Bingung mau komentar apa, aku bukan penulis, dan tidak bisa menulis, hehehehe…

  15. kemarin pas pameran mu beli2 buku yg rada serius..malah beli buku yg ringan2 semua 😦

  16. Willy Ediyanto

    Menulis. Kalaumau menulkius meneurut saya a memang harus melupakan teori menulis. Melupakan tidak punya komputer dll. Itu hambatan.
    Ada beberapa teman yang saya sodori buku Menulis sangat Mudah, bukunya terdahulu, hasilnya, mereka termotivasi luar biasa. Ada yang tulisannya bagus karena kemampuan berbahasanya bagus, ada yang acak-acakan dalammengalirkan gagasan. Tetap termotivasi, hanya kelanjutannya saya kurangmengikuti. Pertama, dalam keseharian selalu malas. Mengajar malas, ngurus anak ya malas, menulis apalagi. Yang tidak malas hanya menghabiskan waktu dengan mengobrol.
    Yang kedua, seperti juga Urip Helgeduelbek, kuliah lagi, sibuk lagi, otak diperas.
    Aya yang patah semangat karena sekali kirim ke koran tidak dimuat. Wah yang ini pasti membaca tidak meresapi isi bukunya.
    Buku terakhir ini saya belum baca. Tapi kalau sama dengan yang di blog-nya, sebagian sudah saya baca. Yakin lah saya bahwa menulis sangat mudah. Resensinya bagus.
    Yang lain tak terlihat responnya.

  17. mohon maaf saya sampaikan terlebih dulu, comment saya yg dlu itu, salah copy paste. Tdk ada maksud apa2 kok… skali lg mhon maaf buat mba Nai.

  18. Ini posting saya yg betul…

    Sebuah pilihan yang sulit barangkali, untuk tetap menjaga keresahan, bersepi-sepi berhadapan dengan bertumpuk buku yang berserakan. Berada di depan komputer berjam-jam, menyusun huruf demi huruf menjadi kata, kata menjadi kalimat, dan seterusnya. Sementara sebagian lain dari generasi kita menikmati hidup nyantai, nonton televisi, jalan-jalan ke mall, cafe, game, kongko-kongko, ber-haha hehe berbicara tentang sesuatu yang entah…
    Sebelum melakukan aktivitas apapun, terlebih menulis, yang terpenting adalah motivasi atau keberangkatan awal (dan ini yang coba dibangun oleh Bung Ersis dalam tulisan-tulisannya). Tanpa itu, maka sulit untuk sampai pada apa yang dituju. Dalam konteks menulis, temukan alasan yang paling emosional mengapa Anda menulis? Ibadah, menegakkan periuk, memperoleh nilai, tanggung jawab moral, atau apa? Selesaikan dulu masalah ini, baru Anda bisa beranjak ke aktivitas teknis.
    Untuk yang bersifat teknis ini, kita sangat diuntungkan dengan perkembangan teknologi. Komputer membuat kerja kita jadi sangat efisien. Tak hanya itu, di era teknologi informasi sekarang ini, tersedia pula fasilitas internet. Dalam hitungan detik, kita bisa mendapatkan berbagai informasi penting yang dibutuhkan.
    Menyadari itu semua, saya malu membaca karya-karya Tan Malaka, misalnya, yang banyak lahir dari gubuk reot, pensil dan kertas buram seadanya. Harus terus berpindah, sampai ikut merasakan dinginnya lantai penjara.
    Terkini, ada Kuntowijoyo (alm), saat terserang penyakit meningo encephalitis yang berakibat terganggunya saraf motorik dan memori otak, semangat menulisnya tak pernah padam.
    Atau Harun Yahya, penakluk teori evolusi. Yang harus berhadapan dengan penjara, siksa, fitnah, cibiran bahkan ancaman pembunuhan. Namun tetap menulis dan menghasilkan karya. Menulis adalah mendedahkan kesaksian spiritual, menjadi saksi sekaligus bukti atas kebesaran dan keagungan Allah.
    Sementara, kita dalam kondisi aman tentram, sumber daya fisik sempurna, tak ada ancaman fisik dan psikologis, namun tetap saja rabun membaca, lumpuh menulis. Tanya kenapa???
    Tak ada yang salah memang, tapi rasa-rasanya jadi tidak imbang. Jika segenap waktu harus dipenuhi dengan aktivitas-aktivitas “kemesraan emosional”. Acuh tak acuh terhadap “tantangan-tantangan” intelektual.
    Buku karya Bung Ersis ini, ingin sekalii membantu Anda, kita semua, menjawab sapa: “Selamat Datang Penulis Muda”. Tulisan yang mampu memberdayakan Anda. Setiap kalimat yang tersusun membiak menjadi sebuah dialog yang akrab, hangat, dan membahagiakan. Ia merupakan gabungan antara teks yang dibaca, dan pengalaman penulisnya. Buah dari mengakrabi kehidupan.
    Maka dari itu, mari teriakkan: Hai anak muda! Tunggu apa lagi, kesempatan telah digelar di depan mata, pasar telah berpihak padamu. Dirimu adalah sumber inspirasi. Layaknya samudera, tak akan mengering hanya karena airnya sering engkau ambil.

    Wassalam

    (posting yg terdahulu tlong di-delete saja yaa.. and makasih)

  19. Budi

    ada rasa bangga, haru, bahkan kaget yang luar biasa ternyata temen tempat curhat selama ini begitu banyak telah menulis. Memang jika direnung dalam apa yang dikatakan Ewa memang benar dan sangat bagus.Banyak ilmu yang kita dapet dari buku Ewa ini.Okey .. saya akan abaikan semua aturan yang begitu menjlemet selama ini. Ulun setuju dengan cara Uda Ewa.Namun sabarlah dulu Uda,tidak akan lama lagi…. Trims ya Uda Ewa, Uda begitu banyak telah membimbing Ulun selama ini. Pokoknya maju terus Uda Ewa kita dobrak semua ketakutan yang memasung & membelenggu kita semua dari ketiadaberdayaan….. Sukses Uda Ewa.Salam.

  20. @Taufik: tak apa salah copas…:), saya senang, jadi sering mampir kemari 🙂

    @Budi:Yaaa…sukses selalu Pak EWA yahhh

  21. kunjungan lagi nih, tlong comment mba di blog saya, taufik79.wordpress.com

  22. nenkjuly

    saya beruntung sekali, bisa menemukan sebuah postingan yang membuat saya termotivasi untuk terus menulis dan menulis. baru tahap belajar …:)

  23. Ping-balik: Blog ParcelBuku.Com » Blog Archive » Hal Kecil Yang Tak Dilupakan EWA

  24. Ping-balik: Blog ParcelBuku.Com » Blog Archive » EWA, Mengubah Rasa Takut Menjadi Semangat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s