Hal Kecil Yang Tak Dilupakan EWA

MenulisdenganGembira

Judul Buku : Menulis Dengan Gembira

Penulis : Ersis Warmansyah Abbas

Penerbit : Gama Media

Cetakan : I, Agustus 2008

Tebal Buku : XXII + 246 hlm

“Sampai saat ini, saya belum pernah berjumpa seorang pun yang derajat keseriusannya sebagai motivator penulisan sedahsyat apa yang ditunjukkan Ersis Warmansyah Abbas. Setiap saat, setiap kesempatan, dalam tema perjumpaan seperti apa pun, pria nyentrin ini selalu memotivasi lawan bicaranya untuk menulis” – Erwin Dede Nugroho– dalam pengantarnya yang diberi judul Mendadak Nulis Ala EWA.

Saya mengamini pendapat Erwin tersebut. Dulu, saya pernah mengikuti kelas menulis, dua semester lamanya. Namun itu semua seperti tidak ada gunanya. Teori-teori yang saya dapatkan tidak cukup membantu. Motivasilah yang lebih dibutuhkan untuk penulis-penulis muda; agar mampu menuangkan ide tanpa takut salah.


Berkali kali, EWA (begitu beliau biasa disapa) mengatakan bahwa tidak ada guru menulis di dunia ini. Guru adalah diri kita sendiri. Memulai menulis berarti kita mulai belajar. Dan dalam proses pembelajaran tidak diperbolehkan ada kata takut.

“Jangan takut salah, jangan takut tidak memenuhi kaidah. Kalau mau menulis, ya tulis saja”

Bagi bapak gondrong nan gaul ini kesibukan tidak dapat dijadikan alasan terbendungnya ide, menulis bisa di mana saja. Di tengah kesibukan beliau sebagai tenaga pengajar di Universitas Lambung Mangkurat, Beliau tergolong sangat produktif. Tulisan bergaya khas dan beraroma gaul dapat diselesaikan dalam waktu hitungan menit. Bahkan buku beliau terdahulu yang bertajuk Menulis Mari Menulis, diselesaikan dalam waktu hanya tujuh hari saja. See… betapa mudahnya menulis itu. Ini jugalah yang berkali kali ditegaskan oleh bapak beranak tiga ini.

Gaya bahasa yang dipakai dalam setiap bukunya sangat sederahana, namun kata-katanya berkekuatan dahsyat, mampu mendobrak dinding ketakutan para penulis penulis muda untuk mengabadikan ide dalam bentuk sebuah buku. Pembaca dapat membaca tulisannya dengan cepat, meski tak sama cepatnya dengan ide yang mengalir deras dari kepala yang berbalut rambutnya yang panjang. Saya jadi bertanya tanya ;

“Apa ada pengaruhnya rambut yang panjang dengan kecepatan menulis EWA?“  Heheh sebuah pertanyaan yang tidak ada korelasinya sama sekali.

Selain terus menulis, sebagai bekal…beliau juga menghimbau untuk tidak bosan bosannya membaca. Karena menulis tanpa membaca toh sama dengan kosong .

Menulis dengan Gembira, sebuah ajakan kepada kita untuk menepis segala kegalauan hati. Menuliskan setiap kejadian kecil, menulis buku harian, atau menulis hal yang dianggap remeh temeh tidak lantas membuat tulisan kita tidak dibaca. Jangan hiraukan ! Tuliskan dalam benak !, demikian yang selalu dikatakan beliau, lalu pindahkan dalam bentuk hard copy. Sedemikian sederhananya menulis yang selama ini tidak kita sadari.

Ada VI Bab yang terangkum dalam buku yang didominasi warna merah dan putih ini. Dan diantara Bab-Bab lainnya, ada satu Bab yang menggelitik dan membuat saya tersenyum bahkan terkekeh. Baca saja tulisan yang bertajuk : Menulis Tahi Hidung.

“Tahi hidung, baik yang lendiran apalagi yang mengeras, dalam respon penciuman dikategorikan tidak berbau. Setidaknya penciuman tidak terganggu. Mengorek-ngorek upil (tahi hidung) bagi sebagian oreang bisa jadi hobi. Tidak berbau? Tunggu dulu ” hlm 120.

Aha !!! Upil saja bisa dijadikan bahan bercerita, bahkan memotivasi. Ini sungguh luar biasa bukan? Bahkan hal kecil yang semula tidak menarik perhatian kita membuat kita manggut manggut paham. Lihat ! EWA menulis dengan bahasanya yang menurut saya sangat seksi. Anda harus membuktikan dengan membaca sendiri buku setebal 246 halaman ini.

Masih di Bab yang sama. Pada halaman 125 EWA menjuduli tulisannya dengan Menulis BH dan Air berkaki. Hal yang dapat disimpulkan dalam tulisan berjudul antik ini adalah ; kita dituntut untuk jeli memperhatikan hal hal kecil, lucu, dan memantik pikiran, menjadikan otak aktif, dan bisa ditulis. Simpel kan?

Menutup lembaran terakhir buku ini, membuat perasaan saya bak gado gado. Lega, plong, dan malu. Lega karena saya mendapatkan semua jawaban dari pertanyaan dan ketakutan yang memang tidak beralasan. dan Malu, karena saya yang sudah mempromosikan bakal buku saya kepada beliau, tapi ternyata stagnan dengan alasan kesibukan. Bukankah tidak ada alasan untuk itu Pak?

Nama EWA, kelak akan terukir dalam sejarah penulisan Indonesia. Pasti ! (Nai)

 

Iklan

9 Komentar

Filed under Self Help

9 responses to “Hal Kecil Yang Tak Dilupakan EWA

  1. max

    buku yg bagus ditulis oleh org yg bagus dan direview oleh cah bagus šŸ™‚

  2. @DAmax: hehehe cahbagus itu untuk anak laki laki. Kalo cahayu nahhh itu baru pas :)…minta Pak Ewa deh bukunya, pasti diberi . Ya kan pak ?

  3. Saya lulus fakultas sastra, tapi yang paling memberi saya pelajaran menulis adalah “menulis”.

  4. @Budi Maryono : betul setumpuk teori tak ada gunanya kalo kita tidak pernah mencoba menulis

  5. Kenapa sampai sekarang saya belum baca buku Pak EWA sama sekali ya… -__-

    *kecanduan buku jadul*

  6. tulisan uda EWA memang hebat-hebat

  7. saya mengikuti jalannya buku dari masih menjadi blog, meski tak dari awal, tapi dari sepertiga pertama. dan menurutnya saya hasilnya bagus. saya termotivasi. thanks ewa….

  8. Ping-balik: Blog ParcelBuku.Com » Blog Archive » Hal Kecil Yang Tak Dilupakan EWA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s